New York, AS – Di tengah penurunan tajam penjualan di pasar domestik Amerika Serikat, raksasa kopi dunia Starbucks resmi menyalakan alarm perubahan.
Strategi baru diluncurkan. Mulai dari reformasi pelayanan di gerai, inovasi menu seperti minuman protein dingin, hingga pembaruan desain toko, semuanya demi membalikkan grafik yang terus menurun.
Pada kuartal ketiga fiskal ini, Starbucks melaporkan pendapatan sebesar $9,5 miliar—naik 4%, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi analis.
Tapi angka ini tak bisa menutupi fakta bahwa penjualan di toko yang telah beroperasi lebih dari setahun anjlok 2%, menandai penurunan selama enam kuartal berturut-turut di pasar utamanya: Amerika Serikat.
“Kami percaya strategi perbaikan layanan dan peluncuran produk baru, termasuk minuman protein cold foam, akan jadi titik balik,” ujar Brian Niccol, CEO Starbucks dalam wawancara khusus bersama AP News, Rabu (30/07/25).
Tak hanya itu, transaksi pelanggan tercatat turun 4%, meski nilai per pembelian meningkat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelanggan mungkin membeli lebih banyak dalam satu kali kunjungan, tapi tidak datang sesering sebelumnya.
Untuk itu, Starbucks mengembangkan program baru bernama “Green Apron Service” standar layanan dan manajemen staf yang dirancang untuk mengatasi lonjakan pengunjung saat jam sibuk.
Program ini telah diuji di 1.500 gerai dan akan diluncurkan secara nasional mulai Agustus.
Tak ketinggalan, 80% pesanan kini bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 4 menit, berkat sistem perangkat lunak baru yang mempercepat urutan penyajian.
“Kami ingin dikenal sebagai perusahaan dengan layanan pelanggan terbaik, dan Green Apron Service adalah langkah ke arah itu,” lanjut Niccol.
Di sisi menu, Starbucks berbenah. Setelah memangkas pilihan yang dianggap memperlambat layanan, perusahaan siap menghadirkan varian baru seperti minuman berbasis protein, dark roast terbaru, camilan bebas gluten, dan minuman energi berbasis air kelapa.
Yang menarik, seluruh pengembangan produk kini melibatkan barista dan staf langsung di lapangan—bukan sekadar kreasi dari kantor pusat.
“Era produk diciptakan di kantor dan barista disuruh cari cara sendiri sudah berakhir,” tegas Niccol.
Tak hanya itu, model gerai baru dengan 32 kursi dan jendela drive-thru dirancang 30% lebih murah, untuk menggantikan toko-toko kecil dengan layanan pesan antar yang tidak efisien.
Meski secara keseluruhan laba bersih Starbucks anjlok 47% menjadi $558 juta, dan pendapatan per saham hanya 50 sen di bawah perkiraan analis 65 sen, saham Starbucks justru naik 3% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Optimisme pasar tampaknya masih ada, menanti hasil nyata dari strategi perubahan besar-besaran ini.(YA)





