Jeddah – Sebanyak 24.022 jemaah umrah asal Indonesia dilaporkan telah tiba kembali di Tanah Air hingga 12 Maret 2026.
Ribuan jemaah ini bertolak dari dua pintu utama internasional, yakni Bandara King Abdulaziz di Jeddah dan Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz di Madinah.
Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, melalui Staf Teknis Urusan Haji, memastikan proses pemulangan terus mendapatkan pengawasan ketat.
Langkah ini diambil untuk menjamin kenyamanan jemaah di tengah padatnya lalu lintas penerbangan internasional dari Arab Saudi akibat Konflik yang terjadi antara AS Israel dan Iran.
Staf Teknis Haji pada Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah, Ilham Effendy, menjelaskan bahwa petugas di lapangan bekerja ekstra untuk mengantisipasi hambatan teknis.
Pihaknya melakukan koordinasi nonstop dengan maskapai dan penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU).
“Petugas terus melakukan pengawasan lapangan serta berkoordinasi dengan pihak maskapai dan penyelenggara perjalanan ibadah umrah untuk memastikan setiap kendala yang dialami jemaah dapat segera ditangani,” ujar Ilham dalam keterangan resminya, Sabtu (14/3/2026).
Kendala Pembatalan Jadwal Penerbangan
Dalam kurun waktu tiga hari terakhir, yakni periode 10–12 Maret 2026, tercatat ada 3.441 jemaah yang dipantau langsung dalam proses kepulangannya.
Meski secara umum berjalan lancar, petugas sempat menemukan beberapa kendala administratif dan teknis di bandara.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah adanya penyesuaian jadwal terbang secara mendadak.
Beberapa maskapai dilaporkan melakukan pembatalan penerbangan yang berdampak pada waktu tunggu jemaah di area bandara. Diantaranya:
- Total Kepulangan: 24.022 jemaah hingga 12 Maret 2026.
- Titik Pantau: Bandara King Abdulaziz (Jeddah) dan Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz (Madinah).
- Masalah Utama: Pembatalan penerbangan oleh maskapai dan penyesuaian jadwal.
- Solusi: Re-skedul (penjadwalan ulang) melalui koordinasi antara KUH, otoritas bandara, dan biro perjalanan.
Jaminan Keamanan hingga Kloter Terakhir
Ilham menegaskan bahwa koordinasi dengan otoritas bandara di Arab Saudi menjadi kunci agar jemaah tidak terlantar saat terjadi perubahan jadwal. Jemaah yang terdampak pembatalan kini telah mendapatkan kepastian jadwal baru dan berangsur pulang.
“Melalui koordinasi dengan maskapai, otoritas bandara, serta penyelenggara perjalanan umrah, jemaah yang sebelumnya mengalami keterlambatan akhirnya dapat dipulangkan dengan aman,” jelas Ilham.
Pemerintah berkomitmen untuk mendampingi jemaah hingga seluruh rangkaian ibadah selesai, termasuk memastikan kepulangan yang tertib dan nyaman. Pemantauan intensif ini diharapkan dapat meminimalisir potensi penumpukan jemaah di terminal keberangkatan internasional.(NR)





