Kabul, Afghanistan — Setiap hari, selepas sekolah dasar, Nahideh menghabiskan enam jam di pemakaman.
Bocah 13 tahun itu mengumpulkan air dari sebuah tempat suci di dekat rumahnya, untuk dijual kepada para peziarah yang datang mendoakan kerabatnya. Hasilnya tak seberapa, tapi cukup untuk membantu keluarganya bertahan.
Namun mimpi Nahideh jauh dari halaman pemakaman itu. Ia ingin menjadi dokter, meski ia tahu itu mungkin hanya akan jadi angan-angan.

“Aku lebih memilih pergi ke sekolah, tapi aku tidak bisa. Jadi aku akan pergi ke madrasah,” katanya pelan.
Pemilik mata coklat gelap yang menatap dari balik jilbab hitam yang membalut erat kepalanya itu menambahkan bahwa, “Kalau aku bisa sekolah, aku bisa belajar dan jadi dokter. Tapi aku tidak bisa,”cerita Nahideh kepada Associated Press.
Pendidikan Terbatas, Harapan Tertahan
Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, Afghanistan menjadi satu-satunya negara di dunia yang secara resmi melarang pendidikan menengah dan universitas bagi perempuan.
Saat ini, batas pendidikan bagi anak perempuan adalah kelas enam sekolah dasar. Setelah itu, pintu ilmu tertutup rapat.
Namun dalam kegelapan ini, madrasah sekolah agama Islam menjadi pelita terakhir bagi banyak gadis. Mereka tetap ingin belajar, meski pilihan mereka kini terbatas pada Al-Qur’an, tafsir, dan ilmu fikih.
“Sejak sekolah ditutup, mereka melihat madrasah sebagai satu-satunya kesempatan,” ujar Zahid-ur-Rehman Sahibi, Direktur Pusat Pendidikan Ilmu Islam Tasnim Nasrat di Kabul.
“Jadi mereka datang ke sini agar tetap bisa belajar dan mengisi waktu dengan ilmu agama.”
Statistik Meningkat, Pendidikan Menyempit
Menurut Kementerian Pendidikan Afghanistan, lebih dari 1 juta siswa baru mendaftar ke madrasah hanya dalam satu tahun terakhir, dan menjadikan totalnya lebih dari 3 juta murid di seluruh negeri.
Meski tak ada angka resmi tentang jumlah perempuan, pengelola madrasah menyebut bahwa mayoritas siswanya kini adalah perempuan.
Di Tasnim Nasrat, misalnya, 90% dari 400 siswa adalah perempuan. Mereka datang dari berbagai usia mulai dari 3 tahun hingga 60 tahun.

Faiza, 25 tahun, adalah salah satu dari mereka.
“Sangat baik bagi perempuan untuk belajar di madrasah, karena Al-Qur’an adalah kalam Allah, dan kita adalah Muslim. Mempelajari isinya adalah kewajiban kami” ujar Faiza dikutip dari Associated Press.
Namun Faiza mengakui, andai boleh memilih, ia lebih ingin mempelajari kedokteran. Profesi dokter adalah salah satu dari sedikit bidang yang masih diperbolehkan untuk perempuan di Afghanistan.
“Kalau keluargaku melihat aku benar-benar taat dalam ilmu agama, mungkin mereka akan izinkan aku lanjut belajar,” harapnya.
Ilmu Agama Bukan Satu-satunya Solusi
Bahkan para guru madrasah pun mengakui, pendidikan selain agama juga tetap penting.
“Dalam pandangan saya, perempuan perlu belajar ilmu agama dan juga ilmu umum, karena keduanya penting dalam masyarakat,” kata Sahibi. “Islam juga menganjurkan umatnya untuk mempelajari ilmu modern yang bermanfaat.”
Namun harapan itu kian samar di tengah kebijakan keras Taliban. Larangan ini bahkan menimbulkan friksi di internal pemerintahan.
Awal tahun ini, Wakil Menteri Luar Negeri Taliban, Sher Abbas Stanikzai secara terbuka mengkritik larangan tersebut.
“Tidak ada alasan syar’i untuk melarang pendidikan perempuan,” katanya dalam pidato publik pada Januari 2025.
Tak lama setelah pernyataan itu, Stanikzai disebut “cuti” dan kabarnya telah meninggalkan negara itu.
Menurut UNICEF, jika larangan ini terus berlangsung hingga 2030, lebih dari empat juta anak perempuan akan kehilangan hak atas pendidikan.
“Dampaknya sangat besar bagi kesehatan, ekonomi, dan masa depan bangsa Afghanistan,” ujar Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell dalam pernyataan resminya, Maret lalu.
Di masyarakat yang sangat konservatif ini, banyak yang tetap menganggap bahwa pendidikan agama adalah fondasi dari segalanya.
“Siapa yang memulai dari Al-Qur’an akan lebih mudah mempelajari ilmu lain seperti kedokteran atau teknik,” kata Mullah Mohammed Jan Mukhtar, pemimpin madrasah putra di utara Kabul.
Madrasahnya kini memiliki 160 murid laki-laki, dan cabang untuk perempuan dengan 90 murid.
“Menurut saya, harus ada lebih banyak madrasah bagi perempuan,” tegasnya. “Karena jika mereka memahami hukum agama, mereka akan tahu bagaimana menjalankan peran dalam keluarga.”
Meskipun pintu pendidikan formal tertutup rapat, semangat belajar para gadis di Afghanistan tak pernah padam.
Kisah Nahideh dan Faiza menjadi cerminan jutaan perempuan muda yang harus berjuang di antara keterbatasan dan harapan.
Pilihan untuk beralih ke madrasah mungkin menjadi solusi sementara, namun hal itu tidak bisa sepenuhnya mengisi kekosongan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk membangun masa depan yang lebih cerah.
Di tengah kebuntuan politik dan friksi internal di tubuh Taliban, masa depan pendidikan perempuan di Afghanistan masih tergantung pada sebuah pertanyaan besar: apakah cahaya harapan yang tersisa di madrasah akan cukup untuk menerangi jalan menuju masa depan yang lebih baik ? (YA)





