KTT ASEAN: Keanggotaan Timor Leste Hingga Isu Tarif Dagang AS & Perang Palestina

Menlu Malaysia Peringatkan Netralitas Kian Sempit: Apa Solusi KTT Kuala Lumpur ?

Kuala Lumpur, Malaysia – Para menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara pada Sabtu (25/10/25) telah membuka pembicaraan jelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur.

Sebuah pertemuan bersejarah yang akan secara resmi menyambut Timor Leste sebagai anggota ke-11 blok tersebut. Namun, fokus pertemuan tahunan ini tak hanya soal perluasan anggota.

KTT kali ini dibayangi oleh ketegangan geopolitik, sengketa maritim, dan kehadiran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam kunjungan pertamanya ke Asia sejak kembali menjabat.

KTT yang dimulai pada Minggu (26/10/25) ini akan dilanjutkan dengan serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan mitra-mitra utama ASEAN, termasuk Tiongkok, Jepang, India, Australia, Rusia, Korea Selatan, dan AS.

Politik Global & Posisi ASEAN

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan memperingatkan rekan-rekannya bahwa “turbulensi politik global pasti akan terus membayangi kawasan kita di tahun-tahun mendatang.”

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan Saat Pembukaan KTT ASEAN – Foto: Dok. Bernama

“Karena lanskap internasional semakin didominasi oleh persaingan alih-alih konsensus, perpecahan alih-alih dialog, ASEAN berada di persimpangan jalan,” kata Mohamad.

“Ruang netralitas dan sentralitas kita semakin sempit, terutama di bidang-bidang seperti perdagangan, teknologi, dan pengaturan keamanan regional. Kita harus terus bertindak sebagai yang berbicara dan bukan yang dibicarakan.”

Trump Fokus Perdagangan & Gencatan Senjata

Kunjungan Trump menandai kehadiran langsung presiden AS di KTT ASEAN sejak 2017. Pejabat mengatakan Trump diharapkan menyaksikan penandatanganan kesepakatan dagang baru, termasuk dengan Malaysia.

Selain itu, ia juga dijadwalkan menyaksikan penandatanganan perluasan perjanjian gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja.

Kesepakatan yang dimediasi di Kuala Lumpur pada Juli dengan dukungan ASEAN, dan di bawah ancaman Trump untuk menangguhkan negosiasi perdagangan.

Meskipun kunjungan Trump menandakan keterlibatan langsung AS yang jarang terjadi di kawasan, kunjungan ini juga memicu kontroversi.

Joanne Lin, Koordinator Bersama Pusat Studi ASEAN di ISEAS–Yusof Ishak Institute Singapura menilai ada makna lain di balik kehadiran Trump.

“Lebih dari sekadar memperdalam keterlibatan AS, kunjungan ini adalah tentang visibilitas. Trump ingin memproyeksikan dirinya sebagai ‘dalang kesepakatan global’ pada saat kebijakan domestiknya, terutama tarif, telah mengganggu mitra-mitra utama di kawasan,” ungkap Lin.

Protes dan Isu Palestina

Keamanan telah ditingkatkan di seluruh Kuala Lumpur menyusul rencana protes anti-Trump, terutama terkait dengan sikap pemerintahannya terhadap isu Palestina.

Namun, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim memuji Trump karena membantu menengahi gencatan senjata di Gaza.

Anwar menekankan bahwa meski gencatan senjata tercapai, Malaysia akan tetap mengangkat isu solusi Palestina secara langsung dengan Trump selama KTT.

KTT tahun ini menjadi tonggak sejarah dengan menyambut anggota baru untuk pertama kalinya dalam 26 tahun.

Integrasi Timor Leste, negara termuda dan termiskin di kawasan itu, dipandang sebagai langkah simbolis bagi inklusivitas regional.

“Menyambut demokrasi muda ini memperkuat tidak hanya tekad kolektif kita, tetapi juga kapasitas kita untuk menghadapi tantangan masa depan bersama,” ujar Mohamad.

Keanggotaan ASEAN memberikan akses bagi Timor Leste ke kesepakatan perdagangan bebas, peluang investasi, dan pasar regional yang lebih luas hal yang sangat penting untuk mendiversifikasi ekonomi yang selama ini bergantung pada minyak dan gas.

“Mereka memang miskin, ya, tetapi mereka masih memiliki potensi. Sebagai sebuah komunitas, adalah tugas kita untuk menopang negara-negara ini,” kata PM Anwar Ibrahim, menyoroti pentingnya dukungan regional.

Di luar isu ekonomi dan keanggotaan, para pemimpin juga dijadwalkan membahas titik-titik konflik termasuk sengketa Laut Cina Selatan, perang saudara Myanmar, dan penyebaran jaringan penipuan lintas batas.

Krisis Myanmar, yang dipicu oleh kudeta militer tahun 2021, terus menguji persatuan ASEAN, dengan para pemimpin junta militer masih dilarang hadir di KTT karena gagal mematuhi Konsensus Lima Poin blok tersebut.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *