Indonesia-Oxford Jajaki Kolaborasi Layanan Kesehatan Strategis

Kemdiktisaintek Dorong Pembangunan 10 Fakultas Kedokteran Standar Internasional 

Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi menjajaki kemitraan strategis dengan University of Oxford.

Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan ekosistem pendidikan tinggi, riset medis, serta transformasi layanan kesehatan nasional.

Menteri Diktisaintek, Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari visi besar Presiden untuk memperkuat infrastruktur medis dalam negeri.

Salah satu target utamanya adalah pendirian sepuluh fakultas kedokteran terintegrasi, yang akan dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan berstandar global.

“Kami berharap pertemuan ini menjadi awal dari kolaborasi lebih luas, khususnya dalam inovasi teknologi kesehatan. Sesuai arahan Presiden, rencananya akan dibangun sepuluh fakultas kedokteran yang menyatu dengan rumah sakit pendidikan berkualitas internasional,” ujar Menteri Brian dalam keterangannya resminya Sabtu (07/02/26).

Prioritas Riset & Teknologi

Kemitraan ini tidak hanya terbatas pada pengembangan kurikulum, tetapi juga mencakup riset mendalam pada sektor-sektor krusial.

Beberapa bidang yang menjadi prioritas utama meliputi pengembangan vaksin, integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam sektor kesehatan, sistem diagnostik penyakit, hingga penanganan penyakit menular seperti tuberkulosis.

Menteri Brian menambahkan bahwa sinergi ini diharapkan mampu memfasilitasi pertukaran akademisi dan penguatan kapasitas institusi pendidikan di Indonesia agar mampu bersaing di level global.

Dukungan Global & Hilirisasi Inovasi

Delegasi University of Oxford, Heidi Johansen-Berg memberikan apresiasi atas ambisi Indonesia dalam memajukan sektor kesehatan dan pendidikan.

Menurutnya, Oxford berkomitmen untuk mendukung pengembangan talenta global dan inovasi teknologi yang tengah diupayakan Indonesia.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman menekankan bahwa keterlibatan institusi kelas dunia seperti Oxford akan mempercepat proses hilirisasi riset.

“Kolaborasi ini akan mendorong terciptanya riset yang berdampak nyata serta peningkatan kapasitas peneliti lokal, sehingga inovasi kesehatan dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” jelas Fauzan.

Pertemuan strategis ini juga melibatkan pimpinan dari tujuh Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) terkemuka, di antaranya UI, ITB, UGM, Unpad, Airlangga, ITS, dan IPB. (NR).

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *