Mengapa YouTube dan Meta Kini Disamakan Dengan Industri Rokok ?

Jeratan Dopamin Instan: Algoritma 'Candu' Masuk ke Meja Hijau

Los Angeles,AS – Raksasa teknologi dunia, Google dan Meta, kini tengah menghadapi salah satu ujian hukum terberat dalam sejarah mereka.

Berdasarkan pantauan AFP Dalam persidangan krusial yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat, fokus peradilan bergeser tajam: bukan lagi soal apa yang diunggah pengguna, melainkan bagaimana desain algoritma platform sengaja dirancang untuk memicu kecanduan layaknya nikotin.

Inti Gugatan: Jeratan Dopamin Instan

Gugatan ini menuduh bahwa fitur-fitur populer seperti YouTube Shorts dan algoritma rekomendasi Meta diciptakan dengan satu tujuan: memicu lonjakan “dopamin instan”.

Tim penggugat berargumen bahwa desain ini secara sengaja mengeksploitasi kerentanan psikologis, terutama pada anak muda, yang menyebabkan gangguan kesehatan mental serius.

  • Desain Adiktif: Penggunaan fitur infinite scroll (gulir tanpa henti) yang membuat pengguna sulit berhenti.
  • Target Psikologis: Algoritma yang memprioritaskan konten pemicu emosi untuk mempertahankan durasi tonton.
  • Analogi Industri Tembakau: Penggugat menggunakan strategi hukum yang pernah menjatuhkan raksasa rokok, yakni menuduh perusahaan menjual produk yang berbahaya bagi kesehatan secara sadar.

“Zuckerberg Tidak Menjalankan YouTube”

Di dalam ruang sidang yang tegang, Luis Li, pengacara yang mewakili Google (induk YouTube), mencoba membangun benteng pertahanan dengan memisahkan persepsi publik.

Ia melontarkan pertanyaan retoris kepada panel juri untuk menegaskan bahwa YouTube memiliki manajemen dan tanggung jawab yang berbeda dari Meta.

“Semua orang mengerti bahwa Mark Zuckerberg tidak menjalankan YouTube, bukan?” ujar Li, dikutip AFP.

Upaya ini dilakukan untuk menjauhkan YouTube dari sentimen negatif yang selama ini sering menghantam Facebook dan Instagram terkait isu privasi dan keamanan anak.

Momen paling menarik terjadi ketika Li bertanya kepada para juri, mengenai fenomena penggunaan ponsel berlebih di masyarakat.

Meski mayoritas juri mengangguk setuju bahwa kecanduan gawai adalah masalah sosial yang nyata, keraguan muncul saat mereka ditanya apakah YouTube adalah penyebab tunggalnya.

Beberapa detail penting yang terungkap dalam persidangan:

  • Celah Hukum Baru: Penggugat tidak lagi menyerang “konten” (yang dilindungi undang-undang AS), melainkan menyerang “desain produk” atau kelalaian dalam personalisasi algoritma.
  • Kesaksian Juri: Salah satu panelis menceritakan kekhawatirannya melihat anggota keluarga yang menghabiskan waktu berjam-jam secara pasif di platform video pendek seperti TikTok dan Shorts.
  • Penolakan Hakim: Hakim menolak permintaan Meta dan YouTube untuk menghapus analogi “industri tembakau” dalam persidangan, yang berarti perbandingan dengan produk adiktif berbahaya tetap sah secara hukum.

Pertarungan hukum ini diprediksi akan mengubah lanskap industri teknologi secara permanen.

Jika hakim memutuskan bahwa desain algoritma adalah tanggung jawab hukum perusahaan, maka era “kebebasan desain” bagi media sosial mungkin akan berakhir, digantikan dengan regulasi ketat demi kesehatan publik.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *