Futurefam Summit 2026: Lawan Kejahatan Digital Anak

Strategi baru orang tua hadapi ancaman predator dan eksploitasi di internet.

Jakarta – Di balik layar ponsel yang menyala di kamar yang gelap, seorang anak mungkin sedang asyik bermain game.

Namun, di balik interaksi virtual itu, risiko besar seperti grooming hingga eksploitasi seksual mengintai tanpa suara.

Menanggapi urgensi tersebut, Pemerintah Indonesia melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga menggelar Futurefam Summit dalam rangka memperingati Safer Internet Day 2026.

Bertempat di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, Sabtu (14/2/2026), forum ini menjadi tonggak sejarah baru dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital secara terintegrasi dan kolaboratif.

Ancaman di Balik Penetrasi Internet

Dunia digital bukan lagi pilihan, melainkan realitas bagi generasi muda Indonesia. Data Survei APJII 2025 mengungkapkan fakta mencengangkan yaitu :

  • Generasi Z (12-27 tahun) telah menyentuh angka 87,80 persen
  • Generasi Alpha (di bawah 12 tahun) mencapai 79,73 persen.

Namun, tingginya angka ini bak pisau bermata dua. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2025, ruang digital kini menjadi ladang subur bagi berbagai ancaman serius:

  • Eksploitasi Seksual Anak: Termasuk kasus grooming lintas negara.
  • Kecanduan Konten: Paparan pornografi dan perjudian daring yang kian mudah diakses.
  • Kesehatan Mental: Dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan.

Salah satu kasus yang menggetarkan publik adalah eksploitasi seksual terhadap remaja 15 tahun asal Swedia oleh pria dewasa di Balikpapan. Mereka berkenalan melalui platform permainan populer, Roblox. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa batas antarnegara telah runtuh di ruang digital.

Literasi Digital Baru untuk Orang Tua

Dalam ekosistem yang serba digital ini, keluarga ditetapkan sebagai garda terdepan. Sayangnya, masih banyak orang tua yang gagap dalam menetapkan aturan daring bagi buah hati mereka.

Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan KemenPPPA, menekankan bahwa orang tua adalah pihak yang paling butuh “diisi ulang” pengetahuannya.

“Keluarga itu adalah sekolah pertama anak kita. Kita perlu dibekali lagi pemahaman literasi digital supaya tahu apa yang dilakukan anak dengan gadget-nya. Jangan sampai anak di kamar sendiri, tapi kita tidak tahu risiko yang mereka hadapi,” tegas Woro dalam forum tersebut.

Futurefam Summit bukan sekadar seremoni. Acara ini merupakan gerakan kolektif yang melibatkan raksasa teknologi seperti Google dan Meta, hingga organisasi internasional seperti UNICEF dan ECPAT Indonesia.

Inisiatif ini mencakup tiga pilar penting:

  1. Peningkatan Kapasitas: Membekali orang tua dengan teknik pendampingan digital yang efektif.
  2. Diskusi Inklusif: Menyediakan ruang bagi keluarga untuk berbagi solusi pengasuhan di era teknologi.
  3. Implementasi Kebijakan: Mendorong penyelenggara sistem elektronik (platform) untuk lebih ketat dalam menerapkan protokol perlindungan anak.

Masa Depan yang Lebih Aman di Ujung Jari

Perjalanan menciptakan ruang digital yang aman memang masih panjang. Namun, melalui pendekatan edukatif dan sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat sipil, Indonesia optimis mampu membangun ketahanan keluarga yang kuat.

Dunia digital tidak harus menjadi tempat yang menakutkan jika kita memiliki pengetahuan untuk menavigasinya.

Futurefam Summit 2026 menjadi pengingat bahwa di era algoritma sekalipun, kasih sayang dan pengawasan orang tua tetap menjadi “firewall” terbaik bagi masa depan anak bangsa.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *