Lisbon, Portugal – Real Madrid sukses mencuri kemenangan krusial 1-0 atas Benfica dalam laga play-off Liga Champions di Estadio da Luz, pada Rabu (18/02/26) dinihari.
Gol tunggal Vinicius Junior di awal babak kedua menjadi penentu kemenangan skuad asuhan Alvaro Arbeloa.
Meski laga sempat diwarnai ketegangan akibat insiden rasisme yang memaksa wasit menghentikan pertandingan selama delapan menit, Los Blancos berhasil menjaga soliditas hingga peluit panjang berbunyi.
Kemenangan ini memberikan keuntungan besar bagi Los Blancos, yang kini hanya membutuhkan hasil imbang pada laga leg kedua yang akan digelar di Santiago Bernabeu untuk memastikan tiket ke babak 16 besar.
Tembok Tebal Benfica
Sejak peluit pertama dibunyikan, Real Madrid tampil dengan rencana permainan yang sangat disiplin. Lini pertahanan yang digalang solid oleh Arbeloa membuat Benfica kesulitan menemukan celah.
Madrid sempat menebar ancaman serius pada menit ke-19 melalui tembakan rendah Vini Jr. hasil umpan Trent Alexander-Arnold, namun bola meleset tipis dari gawang.
Benfica bukannya tanpa perlawanan. Menit ke-24, tendangan Aursnes yang berbelok arah setelah membentur Prestianni memaksa Thibaut Courtois melakukan penyelamatan akrobatik.
Itu menjadi satu-satunya momen berbahaya tuan rumah di babak pertama, sebelum mereka akhirnya dikepung habis-habisan oleh serangan Madrid menjelang turun minum melalui aksi Mbappe dan Arda Guler.
Vini Jr. & Insiden Rasisme

Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-50 melalui Vini Jr. yang menerima bola di sisi sayap & melewati Dedic. Ia melepaskan tembakan melengkung ke pojok atas gawang yang membuat kiper Trubin terpaku.
Stadion terdiam, namun perayaan gol tersebut segera berubah menjadi ketegangan.
Wasit François Letexier terpaksa mengaktifkan protokol anti-rasisme pada menit ke-52, setelah Vini Jr. melaporkan penghinaan rasial dari pemain Benfica, Prestianni.
Akibatnya pertandingan ditangguhkan selama 8 menit, sementara para pemain berdiskusi di lapangan. Atas permintaan Vini Jr., Real Madrid memutuskan untuk menyelesaikan laga & menjaga keunggulan hingga akhir.
Aurelien Tchouameni, yang dinobatkan sebagai Man of the Match (MVP), tampil luar biasa sebagai filter di lini tengah. Ia berhasil memutus aliran serangan Benfica dan memberikan rasa aman bagi lini belakang.
“Kami sempat berdiskusi untuk meninggalkan lapangan, namun Vini meminta kami untuk terus bermain dan menang di sini,” ungkap Tchouameni usai laga dikutip dari Situs Resmi Real Madrid.
Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Madrid adalah rasa saling mendukung antar pemain, di tengah tekanan suporter lawan dan insiden non-teknis yang mengganggu mental.
Dengan hasil ini, beban kini berada di pundak Benfica. Mereka harus tampil habis-habisan di Madrid pekan depan jika ingin membalikkan keadaan.
Bagi Real Madrid, kemenangan di Lisbon ini bukan sekadar modal angka, melainkan pernyataan mental bahwa mereka tetap tangguh di bawah tekanan apa pun. (*)
Baca juga :





