Jakarta – Di tengah sisa-sisa puing bangunan yang terdampak bencana, sebuah langkah besar diambil untuk mengembalikan senyum anak-anak sekolah di tanah Sumatera.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi memulai langkah masif pemulihan infrastruktur pendidikan.
Hingga 15 Februari 2026, sebanyak 746 sekolah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah masuk dalam skema revitalisasi dengan total anggaran mencapai Rp866,5 miliar.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) telah rampung dilakukan.
Langkah cepat ini diambil agar proses belajar mengajar tidak lagi terhambat oleh keterbatasan fasilitas pascabencana.
Bangun Pondasi Masa Depan
Proyek ambisius ini bukan sekadar memperbaiki atap yang bocor atau dinding yang retak.
Di banyak titik, pemerintah harus berhadapan dengan kerusakan infrastruktur yang masif dan menantang.
”Kami menargetkan jumlah sekolah yang direvitalisasi akan terus meningkat hingga mencapai 1.204 sekolah pada akhir Februari mendatang,” ujar Abdul Mu’ti dalam rapat koordinasi bersama Pimpinan DPR RI di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Berdasarkan data kementerian Kemendikdasmen, distribusi bantuan ini difokuskan pada tiga wilayah utama dengan rincian sebagai berikut:
- Provinsi Aceh: Menjadi wilayah prioritas dengan 340 sekolah yang direvitalisasi (Anggaran: Rp487,7 miliar). Tercatat ada 188 sekolah rusak berat dan 63 sekolah memerlukan relokasi total.
- Sumatera Utara: Mencakup 210 sekolah (Anggaran: Rp227,4 miliar) yang terdampak bencana.
- Sumatera Barat: Menjangkau 196 sekolah (Anggaran: Rp151,3 miliar) guna perbaikan fasilitas belajar.
Pemerintah menyadari bahwa sekolah yang kokoh tidak akan berarti tanpa kehadiran guru yang tenang dalam mengajar.
Oleh karena itu, pemulihan ini berjalan beriringan dengan pemberian dukungan kesejahteraan bagi para pahlawan tanpa tanda jasa di zona bencana.
Selain anggaran fisik, Kemendikdasmen juga mengalokasikan:
- Tunjangan Khusus Guru (TKG): Rp83,3 miliar disiapkan untuk 13.000 guru yang bertugas di wilayah terdampak.
- Fasilitas Penunjang: Bantuan perangkat TIK, peralatan laboratorium, hingga alat peraga edukatif senilai Rp60 miliar.
- Dana Rekonstruksi Lanjutan: Koordinasi tambahan dana sebesar Rp2,4 triliun sedang diproses untuk normalisasi total sarana pendidikan.
Hingga saat ini, sebanyak Rp231,7 miliar dana telah berhasil dicairkan dan mulai mengalir ke lapangan untuk menggerakkan roda rekonstruksi.
Sisanya sedang dalam tahap pemrosesan administratif yang dijanjikan akan selesai dalam waktu singkat.
Pendidikan Tak Terhenti
Upaya revitalisasi ini bukan hanya soal mengejar target angka, melainkan tentang memastikan hak setiap anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan aman tetap terpenuhi, seberat apa pun tantangan alam yang dihadapi.
”Kami berupaya memastikan proses belajar mengajar di wilayah terdampak tidak hanya kembali pulih, tetapi dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan,” tegas Abdul Mu’ti menutup penjelasannya.
Kini, di balik deru mesin konstruksi dan aroma semen segar di sekolah-sekolah Sumatera, ada secercah cahaya bagi para siswa.
Sekolah-sekolah tersebut tengah bersiap bersalin rupa dari gedung yang luluh lantah menjadi ruang aman bagi mimpi-mimpi besar yang sempat tertunda.(NR)





