Banten – Menghadapi lonjakan pemudik pada Idul Fitri 2026, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi mengoperasikan empat pelabuhan utama di Provinsi Banten.
Langkah strategis ini diambil oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi untuk memecah kepadatan kendaraan menuju Pulau Sumatera, dengan membagi titik penyeberangan berdasarkan jenis moda transportasi guna memastikan arus mudik yang lebih lancar dan aman.
Menghapus Antrean Panjang
Bayangkan ribuan kendaraan yang biasanya berjejal di satu titik, kini dialirkan melalui empat “keran” yang berbeda.
Itulah gambaran besar dari strategi Kemenhub tahun ini.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa Banten tetap menjadi titik paling krusial dalam manajemen logistik dan transportasi nasional selama periode Lebaran.
“Kami menyiapkan empat titik pelabuhan untuk mendistribusikan beban kendaraan. Fokusnya adalah keteraturan. Dengan memisahkan jenis kendaraan, kita bisa meminimalisir risiko penumpukan yang kerap terjadi di akses utama,” ujar Menhub Dudy kepada Awak Media saat meninjau kesiapan infrastruktur di lapangan Rabu (18/2/2026).
Tugas 4 Pelabuhan Utama
Agar perjalanan Kamu lebih efisien, penting untuk mengetahui pelabuhan mana yang harus dituju sesuai dengan kendaraan yang digunakan. Berikut adalah rincian operasionalnya:
- Pelabuhan Merak: Dikhususkan hanya untuk kendaraan pribadi dan bus penumpang. Ini bertujuan agar area Merak lebih steril dan nyaman bagi pemudik keluarga.
- Pelabuhan Ciwandan (PT Pelindo): Menjadi titik utama bagi pemudik sepeda motor dan truk kategori kecil.
- Krakatau Bandar Samudera (KBS): Disiapkan sebagai jalur alternatif strategis langsung menuju Pelabuhan Panjang, Lampung.
- Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ) Bojonegara: Difokuskan khusus untuk kendaraan logistik dan truk bertonase besar, menjauhkan kendaraan berat dari jalur utama kendaraan pribadi.
Langkah taktis ini bukan sekadar soal distribusi angka, melainkan respons nyata terhadap estimasi lonjakan volume kendaraan di tahun 2026.
Dengan memisahkan truk logistik di BBJ Bojonegara dan motor di Ciwandan, Kemenhub berharap gesekan antarmoda di jalan raya dapat berkurang, yang secara otomatis meningkatkan angka keselamatan.
Pemerintah juga bekerja sama secara intensif dengan otoritas pelabuhan serta pihak Kepolisian (Korlantas Polri) untuk menjaga pengamanan di titik-titik krusial.
Integrasi teknologi dan pemantauan real-time di keempat pelabuhan ini diharapkan mampu memberikan kepastian waktu berangkat bagi para calon penumpang.
Menuju Mudik yang Lebih Humanis
Tahun 2026 menjadi pembuktian bagi infrastruktur transportasi Indonesia untuk naik kelas.
Melalui manajemen beban yang merata, pengalaman mudik masyarakat diharapkan tidak lagi identik dengan kelelahan akibat kemacetan horor, melainkan perjalanan yang terukur dan penuh kenyamanan.
Kini, bola ada di tangan kita sebagai pengguna jalan. Kepatuhan untuk menuju pelabuhan yang telah ditentukan bukan hanya soal mengikuti aturan, tapi tentang saling menjaga kenyamanan antar-sesama pelancong yang rindu akan kampung halaman.
Mari jadikan Mudik 2026 sebagai perjalanan yang paling berkesan, aman, dan selamat sampai tujuan.(NR)





