Infantino Hadapi Ancaman Mosi FIFA

Oposisi mulai menghitung dukungan di Dewan FIFA, sementara peluang pergantian kepemimpinan bergantung pada keseimbangan suara antar-konfederasi.

Zurich – Masa depan Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menjadi sorotan setelah muncul berbagai skenario konstitusional yang berpotensi mengubah peta kepemimpinan organisasi sepak bola dunia tersebut.

Di tengah meningkatnya tekanan politik dari sejumlah federasi, jalur pergantian presiden kini tidak lagi sebatas wacana, melainkan mulai memasuki tahapan perhitungan kekuatan suara.

Pilihan tercepat secara teori adalah pengunduran diri secara sukarela. Namun, sejumlah pengamat menilai peluang tersebut relatif kecil mengingat Infantino masih memiliki basis dukungan yang cukup kuat di beberapa kawasan.

Kondisi itu membuat presiden FIFA tersebut diperkirakan akan berupaya mempertahankan posisinya setidaknya hingga agenda pemilihan periode berikutnya.

Apabila pengunduran diri tidak terjadi, perhatian akan beralih kepada mekanisme yang diatur dalam tata kelola FIFA melalui Dewan FIFA (FIFA Council).

Forum ini dapat menggelar pertemuan darurat apabila sedikitnya 19 dari total 37 anggota dewan secara resmi mengajukan mosi.

Komposisi suara saat ini memperlihatkan dinamika yang kompleks.

  • UEFA memiliki sembilan kursi
  • Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dengan tujuh kursi
  • Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) enam kursi
  • Concacaf dan Conmebol masing-masing lima kursi
  • Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) tiga kursi.
Foto: Ilustrasi

Peta tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu konfederasi pun yang mampu menentukan arah keputusan tanpa membangun koalisi lintas kawasan.

Meski demikian, menurut laporan BBC Sport Minggu (02/08/2026), peluang mengumpulkan sedikitnya 19 suara masih dipandang belum sepenuhnya solid.

Bahkan jika ambang batas itu berhasil dicapai dan pertemuan luar biasa terlaksana, Infantino secara hukum tetap memiliki kewenangan untuk menolak tuntutan mundur.

Dalam kondisi tersebut, forum lebih berfungsi sebagai instrumen tekanan politik daripada keputusan yang langsung mengakhiri masa jabatannya.

Tahapan berikutnya yang lebih menentukan adalah penyelenggaraan Kongres Luar Biasa FIFA. Sesuai mekanisme organisasi, forum tersebut dapat digelar apabila sedikitnya seperlima dari total 211 asosiasi anggota, atau minimal 43 federasi nasional, mengajukan permintaan tertulis.

Presiden UEFA Aleksander Čeferin (Kanan) (Foto: AP News)

Dengan dukungan 55 asosiasi anggota, UEFA secara matematis memiliki kemampuan untuk memprakarsai proses tersebut.

Namun, prosedur administrasi diperkirakan membutuhkan waktu antara dua hingga tiga bulan sebelum kongres dapat diselenggarakan.

Apabila kongres terlaksana, agenda utamanya berpotensi menjadi pemungutan suara mosi tidak percaya terhadap presiden FIFA.

Untuk meloloskan langkah tersebut, kubu oposisi harus memperoleh sedikitnya 106 suara dari seluruh asosiasi anggota.

Namun, peta dukungan global masih jauh dari pasti. Sebagian negara yang sebelumnya menolak rencana investasi privat FIFA belum tentu memiliki posisi yang sama terkait pergantian kepemimpinan organisasi.

Di sisi lain, Qatar telah menyampaikan dukungan terbuka kepada Infantino, sementara Meksiko memilih tidak bergabung dalam sikap bersama yang sebelumnya disampaikan kawasan Concacaf.

Kandidat Mulai Diperhitungkan

Di tengah spekulasi mengenai masa depan kepemimpinan FIFA, sejumlah nama mulai disebut sebagai calon pengganti apabila pemilihan baru benar-benar digelar.

Presiden Concacaf, Victor Montagliani, menjadi salah satu figur yang dinilai memiliki peluang kompetitif.

Mantan Ketua Federasi Sepak Bola Kanada tersebut dikenal memiliki pengalaman panjang dalam tata kelola sepak bola internasional, menguasai beberapa bahasa utama, serta berperan dalam penyelenggaraan berbagai turnamen besar.

Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa (Kiri) (Foto: AP News)

Nama lain yang masuk dalam pembahasan adalah Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa.

Pemimpin konfederasi Asia itu dinilai memiliki jaringan politik yang luas di kawasan dengan jumlah anggota terbesar kedua di FIFA.

Dukungan dari federasi Asia dipandang dapat menjadi faktor penting apabila kontestasi kepemimpinan benar-benar berlangsung.

Sementara itu, Presiden Paris Saint-Germain sekaligus Ketua Asosiasi Klub Eropa (ECA), Nasser Al-Khelaifi, juga kerap disebut dalam berbagai spekulasi.

Meski memiliki pengaruh besar di sepak bola Eropa, sejumlah analis menilai kedekatannya dengan Qatar dapat menjadi tantangan tersendiri apabila pencalonannya diwujudkan.

Diplomasi Menjadi Penentu

Di sisi lain, kubu Infantino masih berupaya meredakan ketegangan melalui pendekatan diplomatik kepada berbagai asosiasi anggota FIFA.

Dalam pernyataan resminya pada akhir pekan lalu, Infantino menegaskan komitmennya untuk kembali mempertemukan seluruh pemangku kepentingan.

“Membawa seluruh pihak berkepentingan kembali duduk bersama dalam beberapa hari dan minggu ke depan.”

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya membangun kembali konsensus di internal organisasi.

Sejumlah sinyal dukungan mulai terlihat. Setelah Qatar menyatakan keberpihakannya, Maroko sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2030 juga memberikan dukungan terbuka.

Mesir kemudian menyampaikan apresiasi atas keputusan FIFA membatalkan rencana strategis yang sebelumnya menuai kontroversi.

Infantino (Tengah) dan Presiden AS Donald Trump (Foto: AP News)

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa strategi lobi politik masih menjadi instrumen utama dalam mempertahankan keseimbangan dukungan menjelang kemungkinan digelarnya kongres luar biasa.

Meski demikian, tantangan terbesar bagi kedua kubu bukan hanya menghitung jumlah suara, melainkan menjaga konsistensi koalisi yang terus berubah mengikuti dinamika politik internal FIFA.

Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah sikap sponsor global. Pengalaman pada krisis FIFA tahun 2015 menunjukkan bahwa tekanan dari mitra komersial memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas organisasi.

Saat itu, sejumlah perusahaan multinasional menghentikan kerja sama setelah mencuatnya skandal korupsi yang mengguncang FIFA.

Hingga kini belum terdapat indikasi bahwa sponsor utama akan mengambil langkah serupa.

Namun, perkembangan politik di tubuh FIFA masih berpotensi berubah dalam beberapa bulan mendatang, menjadikan persaingan menuju kepemimpinan berikutnya sebagai salah satu isu paling menentukan bagi arah tata kelola sepak bola dunia.

 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *