Washington – Pada minggu terakhir Juni, satu per satu negara Asia menerima surat resmi dari Washington. Isinya: ancaman tarif hingga 25% terhadap produk ekspor mereka jika tak segera menyepakati kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Jepang, yang selama ini menjadi sekutu militer dan ekonomi paling setia AS di Asia Timur, tak luput dari daftar tersebut.
Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menyebut keputusan itu sebagai “sangat disesalkan”. Pasalnya, Jepang telah berupaya maksimal menjalin komunikasi damai dengan Washington. Menteri Perdagangan Negeri Sakura bahkan sudah tujuh kali terbang ke Washington sejak April lalu demi menghindari tarif yang kini justru menghantam.
Negara-Negara Asia dalam Tekanan
Dari 22 negara yang mendapat surat tarif dari Trump, 14 di antaranya berasal dari Asia. Negara-negara seperti Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Sri Lanka, hingga Kamboja menghadapi skenario buruk: ekspor mereka yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan ekonomi bisa terhenti tiba-tiba.
- Kamboja: Negara dengan ketergantungan tinggi pada sektor garmen berbasis ekspor kini dihantui ancaman tarif hingga 35%.
- Vietnam: Sempat menjadi negara Asia pertama yang mencapai kesepakatan dengan AS, tapi langsung dibebani tarif hingga 40%.
- Samsung (Korea Selatan): Sebagai perusahaan global, Samsung kini berada dalam posisi limbo alias ketidakpastian dalam mengatur rantai pasok globalnya akibat kebijakan Trump.

Neraca Daya Tawar yang Tidak Seimbang
Menurut Alex Capri, dosen di National University of Singapore, negara-negara Asia kini harus mempersiapkan diri menghadapi kebijakan Trump yang berubah-ubah dan menuntut pelacakan logistik yang canggih.
“Tarif terhadap barang transhipped (barang China yang dialihkan melalui negara ketiga) memerlukan sistem pelacakan rantai pasok yang sangat kompleks. Ini bukan soal seminggu dua minggu,” ujar Capri kepada BBC News
Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan memang punya posisi tawar lebih tinggi karena kekuatan ekonominya, namun negara berkembang seperti Kamboja dan Vietnam jelas lebih rentan.
Aliansi AS-Jepang: Retak yang Semakin Terbuka
Ekonom senior Jesper Koll menyebut bahwa Jepang merasa diperlakukan setara dengan negara lain, padahal hubungan historis mereka sangat erat.
“Meski dekat secara ekonomi dan militer, Jepang tidak mendapatkan perlakuan istimewa. Ini bisa mengubah dinamika jangka panjang,” tegasnya.
Setelah Trump mengumumkan tarif di bulan April, Jepang bahkan langsung menetapkan keadaan darurat ekonomi dan membentuk ratusan pusat konsultasi untuk perusahaan terdampak.
China: Pemenang Diam-diam?
Langkah Trump yang memilih mengumumkan surat tarif secara publik ketimbang jalur diplomatik dianggap sebagai political theatre. Menurut Capri, ini justru membuka peluang emas bagi China untuk tampil sebagai mitra dagang yang lebih stabil.
“Tindakan ini adalah hadiah besar untuk China yang mencoba tampil sebagai alternatif dari Trump yang tak bisa diprediksi,” tambah Capri.
Namun, China juga tak bebas masalah. Dengan tenggat waktu kesepakatan hingga 13 Agustus, Beijing masih harus menghadapi ketegangan sendiri dengan Washington. Tetapi satu hal jelas: AS dan China sama-sama kehilangan kepercayaan, dan dunia berada di tengah-tengah. (YA)





