BIRMINGHAM — Dunia musik kembali berduka. Ozzy Osbourne, frontman legendaris Black Sabbath dan ikon tak tergantikan dari musik heavy metal Inggris, meninggal dunia di usia 76 tahun pada pagi hari, hanya berselang kurang dari tiga minggu setelah konser pensiunnya yang emosional di kampung halamannya, Birmingham.
Dalam pernyataan resmi dari keluarga Osbourne yang dirilis pada Rabu pagi waktu setempat, mereka menuliskan:
“Dengan kesedihan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, kami harus memberitahukan bahwa Ozzy Osbourne tercinta telah meninggal dunia pagi ini. Ia berpulang dikelilingi keluarga dan cinta. Kami mohon semua pihak untuk menghormati privasi keluarga kami saat ini.”
Tak disebutkan penyebab kematiannya. Namun, kondisi kesehatannya memang telah lama menurun akibat berbagai penyakit kronis, termasuk Parkinson dan komplikasi dari kecelakaan quad bike yang hampir melumpuhkannya pada 2003.
Dari Pabrik ke Panggung Dunia
Ozzy lahir dengan nama John Michael Osbourne, di kawasan industri Aston, Birmingham, pada 3 Desember 1948. Anak dari keluarga buruh pabrik, masa kecilnya diliputi kekerasan, kemiskinan, hingga pelecehan seksual yang baru ia ungkapkan dalam wawancara dengan The Mirror (2003). Di usia remaja, ia sempat dipenjara karena kasus pencurian.
Lingkungan yang keras itu menjadi bahan bakar kreatif lahirnya Black Sabbath band yang kelam, bising, dan politis. Dibentuk pada akhir 1960-an bersama Tony Iommi, Geezer Butler, dan Bill Ward, Black Sabbath merevolusi musik rock dengan nada-nada suram dan lirik penuh keresahan sosial.
“Kami ingin mengekspresikan cara pandang kami terhadap dunia,” kata Geezer Butler pada wawancara dengan Rolling Stone (2017). “Kami tidak ingin menulis lagu pop ceria. Musik kami penuh nuansa industri.”
Album Paranoid (1970) melahirkan anthem abadi seperti “Iron Man” dan “War Pigs”, sementara Master of Reality (1971) membuka jalan bagi sub-genre doom metal. Musik mereka bukan hanya pemberontakan, tapi juga terapi bagi generasi yang dibesarkan dalam ketidakpastian.
Legenda yang Tak Pernah Jinak
Osbourne dikenal karena aksi panggung eksentrik dan kehidupan pribadi yang penuh kontroversi. Momen ikonik yang selalu dikenang terjadi pada 1982, ketika ia menggigit kepala kelelawar di atas panggung di Iowa, AS. “Saya kira itu boneka,” akunya belakangan, sebagaimana dikutip NME. Insiden ini membawanya ke rumah sakit untuk suntikan rabies.

Foto: Chris (Foto : The Guardian/Walter/WireImage)
Ia juga pernah menggigit kepala dua burung merpati saat pertemuan dengan label rekaman tahun 1981. “Saya cuma ingin melepas burung sebagai lambang damai, tapi malah jadi bencana,” kata mantan humasnya, Mick Wall.
Namun, semua itu hanya sebagian kecil dari sisi gelap Osbourne. Ia juga berjuang lama dengan ketergantungan narkoba dan alkohol. Pada 1989, ia sempat ditahan karena nyaris membunuh istrinya, Sharon Osbourne, saat mabuk. Tapi Sharon tetap bertahan dan bahkan menjadi manajernya, membawa karier solo Osbourne menanjak lagi.
Dari Metal ke Reality Show
Bersama Sharon dan dua anak mereka, Kelly dan Jack, Ozzy memasuki babak baru lewat reality show The Osbournes (2002–2005), yang memenangkan Emmy Award dan memperkenalkan sisi “keluarga gila” mereka ke dunia. Di sinilah Osbourne menjadi figur publik yang dicintai, bukan hanya karena musik, tetapi juga karena kejujuran dan keanehannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pensiun dan Panggung Terakhir
Pada 5 Juli 2025, Osbourne tampil terakhir kali dalam konser perpisahan bertajuk Back to the Beginning di Villa Park, Birmingham. Ia tampil duduk di atas singgasana berhiaskan kelelawar ikon yang lekat dengannya dan kembali membawakan lagu-lagu Black Sabbath bersama Iommi, Butler, dan Ward.
“Aku terbaring di tempat tidur selama enam tahun. Kalian takkan tahu betapa aku merindukan ini,” kata Osbourne kepada penonton malam itu, seperti dilaporkan The Guardian (6 Juli 2025). “Terima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam.”
Konser ini juga menampilkan Metallica, Slayer, dan Guns N’ Roses, sebagai bentuk penghormatan terakhir dari para generasi penerus metal.
Duka Dunia Musik

(Foto: Dave Hogan/MTV 2014)
Ucapan duka mengalir dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya datang dari Elton John:
“Dia adalah teman baik dan pelopor besar yang telah memastikan tempatnya di antara para dewa rock. Sosok legendaris sejati dan salah satu orang paling lucu yang pernah aku kenal. Aku akan sangat merindukannya.”
Warisan yang Abadi
Ozzy meninggalkan warisan 13 album solo, termasuk Blizzard of Ozz (1980) dan Patient Number 9 (2022), serta diskografi monumental bersama Black Sabbath. Ia juga meninggalkan pengaruh besar terhadap generasi musisi metal, dari Metallica hingga Slipknot.
Lebih dari itu, ia meninggalkan pelajaran penting: bahwa bahkan dalam kegelapan terdalam, selalu ada kemungkinan untuk kembali bangkit—walau dengan tertatih.
“Saya ini Iron Man,” katanya sambil mengangkat mikrofon terakhirnya di konser perpisahan. “Ayo gila bareng!”
Kini sang Iron Man telah pergi. Tapi gema jeritannya, dan dentuman gitarnya, akan terus hidup dalam setiap nada yang dimainkan oleh mereka yang tumbuh di bawah bayangannya. (YA)





