Adidas & Nike Jadi Korban Perang Dagang & Tarif Amerika!

Raksasa Olahraga Asal Jerman Siap Naikkan Harga di Pasar Amerika Akibat Tarif Impor

New York, AS – Adidas memperingatkan bahwa tarif impor baru dari pemerintah AS akan membebani perusahaan hingga 200 Juta Euro (setara Rp 3,5 Triliun) dan mengakibatkan kenaikan harga produk mereka untuk konsumen Amerika Serikat.

Dalam laporan keuangan terbarunya, CEO Adidas, Bjorn Gulden mengungkapkan bahwa beban tarif tersebut “langsung menaikkan biaya produk kami untuk pasar AS.”

Meski penjualan global meningkat, pihaknya belum bisa memprediksi sejauh mana permintaan akan terpengaruh jika tarif ini memicu inflasi besar-besaran.

“Kami tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga,” ujar Gulden.

Sumber Produksi Terbesar Kena Dampak 

Adidas memproduksi hampir setengah produknya di Asia, dan dua negara penyumbang utama adalah Vietnam (27%) dan Indonesia (19%).

Keduanya kini dikenai tarif impor masing-masing 20% dan 19% setelah kesepakatan dagang baru dengan AS.

Artinya, semua perusahaan AS yang mengimpor produk Adidas, kini harus membayar tarif tambahan, beban yang otomatis akan dialihkan ke konsumen.

Meskipun Adidas mencatat pertumbuhan penjualan 7,3% menjadi 12,1 Miliar Euro di semester pertama tahun ini dan laba melonjak dua kali lipat menjadi 1 Miliar Euro, ancaman tarif tetap menjadi bayangan gelap.

Dilansir dari BBC News, penjualan alas kaki naik 9%, dan lini pakaian mencatat lonjakan 17% dalam periode April–Juni.

Bukan Cuma Adidas yang Terpukul

Pesaing terdekat Adidas, Nike, telah lebih dulu menaikkan harga produknya di pasar AS sejak Juni 2025, dan memperkirakan tarif dapat menambah biaya operasional hingga 1 Miliar US Dollar.

Tak hanya sektor fashion olahraga, industri otomotif Jerman juga merasakan dampaknya.

Mercedes-Benz memperkirakan kehilangan 420 Juta Euro tahun ini karena tarif AS, sementara Porsche dan Aston Martin sudah menaikkan harga produk hingga 3,6% untuk menutup biaya impor.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz mengecam kesepakatan tarif antara AS dan Uni Eropa, dan menyebutnya sebagai kebijakan yang akan “melukai ekonomi kedua pihak”.

Ia memperingatkan bahwa tindakan semacam ini bisa merusak hubungan dagang global, dan memperburuk ketegangan ekonomi lintas benua. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *