Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) tak lagi hanya soal fiksi ilmiah atau tren teknologi. Bagi Indonesia, AI adalah game-changer.
Sebuah mesin pertumbuhan ekonomi baru yang akan mengubah wajah bangsa, mendorong daya saing, dan mewujudkan ambisi besar menuju negara maju 2045.
Pemerintah kini bergerak cepat memantapkan langkah strategis, untuk memastikan Indonesia tak tertinggal dalam arena global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa AI bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan.

“AI adalah sebuah keniscayaan. Dan AI itu akan menjadi game changer. Dan AI yang akan membawa Indonesia dari sekarang negara 16 terbesar di G20, menuju negara yang 4 besar di G20 pada tahun 2045,” ujarnya pada Pembukaan Forum: Indonesia Merdeka AI di Jakarta.
Mempercepat Transformasi Digital
Pemerintah tak main-main. Langkah-langkah strategis telah digulirkan untuk memperkuat ekosistem digital nasional.
Diantaranya melalui paket kebijakan ekonomi terbaru, yang fokus pada digitalisasi dan pengembangan talenta.seperti :
- Paket Kebijakan Ekonomi Terbaru (8+4+5): Salah satu program andalan adalah pemagangan bagi lulusan perguruan tinggi, yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Program enam bulan ini, yang didukung honor dari pemerintah, menargetkan 20 ribu peserta di tahap awal.
- Akselerasi Infrastruktur: Pembangunan AI Data Center di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa terus digenjot. Selain itu, pemerintah juga mempercepat pengembangan gig economy di 15 kota dan memperluas akses internet melalui satelit LEO (Low Earth Orbit) yang mampu menjangkau 100 ribu masyarakat di wilayah terpencil.
Posisi Indonesia di Kancah Global
Indonesia menunjukkan kepemimpinannya dalam ekonomi digital, baik di tingkat regional maupun global, diantaranya adalah :
- Penyusunan Kerangka Ekonomi Digital ASEAN: Indonesia memimpin penyusunan ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA), menunjukkan peran sentralnya dalam membentuk masa depan digital di kawasan.
- Kerja Sama Dengan Eropa: Penandatanganan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang mencakup digital cluster untuk pertama kalinya, semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain utama.
- Penilaian UNESCO: Indonesia menjadi salah satu negara pertama di ASEAN yang dinilai menggunakan UNESCO Readiness Assessment Methodology, membuktikan kesiapan infrastruktur dan ekosistem digitalnya yang lebih maju dibandingkan banyak negara lain.
Cetak 10,7 Juta Talenta Digital
Namun, semua upaya tersebut akan sia-sia tanpa sumber daya manusia yang mumpuni. Pembangunan talenta digital menjadi agenda krusial untuk menghadapi era AI.
“Next engine of growth itu harus sumber daya manusia dan digitalisasi, baru kita bisa menyusul kemajuan yang ada di Jepang, yang ada di Korea, yang ada di Cina,” kata Menko Airlangga. “Itulah yang membuat kita nanti menjadi lima besar ekonomi di 2045.”
Pemerintah menargetkan mencetak 10,7 juta talenta digital hingga 2030, melalui berbagai program dan kerja sama internasional.
Kehadiran pusat-pusat pengembangan teknologi dan perluasan pendidikan vokasi di bidang digital, diharapkan dapat memperkuat fondasi ini.
Dengan langkah-langkah strategis yang terintegrasi, Indonesia tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi memimpin gelombang revolusi AI, dan mengubahnya menjadi kekuatan pendorong untuk mewujudkan visi besar bangsa di tahun 2045. (YA)





