Denpasar – Pulau Bali yang dikenal sebagai destinasi wisata dunia kini dilanda duka. Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah akibat hujan deras yang mengguyur tanpa henti sejak Selasa (09/09/25) malam hingga Rabu (10/09/25) pagi.
Bencana ini telah merenggut setidaknya enam nyawa dan membuat puluhan lainnya hilang. Kerusakan parah melanda infrastruktur dan permukiman warga, melumpuhkan aktivitas di beberapa kota.
Di ibu kota Bali, Denpasar, hujan deras memicu bencana yang mengerikan. Dua bangunan ruko ambruk di Jalan Sulawesi, Denpasar Barat, setelah pondasinya terkikis oleh luapan Sungai Badung.
Awalnya, enam orang dilaporkan hilang dalam insiden ini. Dua orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit, sementara empat lainnya masih dalam pencarian. Para korban hilang berasal dari ruko Taslim dan New Centrum.

Korban Tewas dan Evakuasi Warga
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi empat orang meninggal akibat ambruknya bangunan di Denpasar.
Dua korban lainnya dilaporkan tewas di wilayah Jembrana, di mana 85 warga terpaksa dievakuasi karena rumah mereka terendam banjir.
Bencana serupa juga melanda Nusa Tenggara Timur, menewaskan empat orang dan menyebabkan 18 desa terisolasi akibat akses jalan dan komunikasi terputus.
“Kami mengerahkan sekitar 200 personel penyelamat di lima kota terdampak, termasuk Denpasar dan Kuta,” kata Kepala BNPB dalam konferensi pers, menambahkan bahwa tim penyelamat menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi warga yang terjebak di genangan air setinggi dada.
Jalan Terputus, Aktivitas Lumpuh Total
Banjir bandang tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan mobilitas warga. Akses menuju Bandara Internasional Ngurah Rai di dekat Denpasar sangat terbatas, hanya bisa dilalui oleh truk.
Jalan-jalan utama terendam total, menyebabkan kemacetan parah dan mengganggu perjalanan di seluruh pulau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem ini disebabkan oleh gelombang Rossby Ekuatorial yang aktif, yang meningkatkan pembentukan awan hujan.
Meskipun curah hujan diperkirakan akan mereda, BMKG terus memantau situasi dengan ketat. “Ini adalah fenomena alam yang tidak terduga, kami harap warga tetap waspada,” tambah juru bicara BMKG. (NR)





