Jakarta – Di saat gema takbir berkumandang dan sebagian besar masyarakat bersimpuh di sajadah Shalat Ied, denyut nadi transportasi Indonesia ternyata tidak berhenti berdetak.
Kementerian Perhubungan mencatat sebuah fenomena menarik pada Hari H Lebaran, Sabtu (21/03/26): sebanyak 873.916 orang masih tercatat melakukan perjalanan dengan angkutan umum.
Meski angka ini tergolong masif, situasi di lapangan diklaim tetap berada dalam kendali penuh.
Total akumulasi pemudik sejak H-8 hingga hari kemenangan kini telah menembus angka 10.887.584 orang, sebuah lonjakan sebesar 8,58% dibandingkan tahun lalu.
Ini membuktikan bahwa hasrat masyarakat untuk pulang ke kampung halaman tetap membara, bahkan hingga menit-menit terakhir di hari Lebaran.
Kereta Api Tak Tergeser, Udara Membayangi
Pilihan masyarakat jatuh secara dominan pada moda transportasi berbasis rel. Ketepatan waktu dan kenyamanan tampaknya menjadi alasan utama mengapa Kereta Api masih memegang tahta, sebagai moda favorit selama Angkutan Lebaran 2026. Berikut rincian pergerakan penumpang tepat di hari H Lebaran:
- Moda Kereta Api: Melayani 364.649 orang (didominasi perjalanan antarkota).
- Angkutan Udara: Tercatat 206.785 orang terbang (155 ribu di antaranya penumpang domestik).
- Angkutan Penyeberangan: Sebanyak 177.564 orang menyeberangi lautan.
- Angkutan Darat (Bus): Membawa 103.777 penumpang menuju kampung halaman.
- Angkutan Laut: Tercatat sebanyak 21.141 orang.
“Pemudik dengan angkutan umum hingga hari Lebaran masih cukup tinggi, tetapi masih tetap terkendali. Moda transportasi terbanyak yang digunakan masih kereta api,” jelas Ernita Titis Dewi, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub dikutip dari Siaran Pers Resmi.
Arus Kendaraan Jakarta
Bukan hanya angkutan umum, aspal jalan raya pun tak dibiarkan mendingin. Pada Hari H, gerbang Tol Jakarta mencatat sebanyak 193.237 unit kendaraan keluar meninggalkan ibu kota.
Sebaliknya, kendaraan yang masuk tercatat sebanyak 122.074 unit, menunjukkan pergerakan lokal dan silaturahmi jarak dekat tetap tinggi.
Di jalur arteri, situasinya jauh lebih padat. Sebanyak 601.275 kendaraan merayap keluar dari wilayah Jabodetabek, memenuhi jalur-jalur non-tol untuk menuju kerabat terdekat.
Pergerakan masif ini menuntut pengawasan ekstra dari petugas lapangan, guna memastikan keselamatan tetap menjadi prioritas utama di tengah euforia hari raya.
Puas bersalaman dan menikmati hidangan khas Lebaran, kini tantangan baru menanti: Arus Balik. Pemerintah memprediksi gelombang kepulangan masyarakat akan mencapai titik kulminasi pada 24 Maret 2026 (H+3).
Kementerian Perhubungan mengimbau agar masyarakat tidak pulang secara bersamaan di hari puncak tersebut dan meminta masyarakat untuk cerdik dalam memilih jadwal.
“Kami mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan arus balik lebih awal guna menghindari waktu-waktu puncak,” tambah Titis.
Pastikan kondisi fisik tetap prima, jangan abaikan obat-obatan pribadi, dan tetap gunakan moda transportasi resmi yang berizin.
Ingat, kelancaran arus balik bukan hanya tugas petugas di lapangan, melainkan hasil dari kecerdasan pemudik dalam mengatur jadwal perjalanan kembali ke rutinitas kota. (NR)





