Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto mendorong aparatur pemerintah daerah (Pemda) agar berani mengambil peluang belajar ke Australia lewat program Australia Awards Indonesia.
Dorongan ini disampaikan dalam acara The Pre-Course of Australia Awards Indonesia’s Governance and Public Policy Making for Subnational Governments, di Jakarta.
Menurutnya, kunci kokohnya fiskal daerah dan pelayanan publik yang berkualitas, ada pada sumber daya manusia (SDM) yang visioner dan berkompeten.
“Ekspektasi pertama dari program ini tentu Bapak-Ibu punya pengalaman yang lebih baik untuk meningkatkan kemampuan dalam perencanaan, penganggaran, dan hal-hal penting lainnya,” kata Bima Arya.
Program ini berbentuk pelatihan intensif selama dua minggu di Australia. Fokusnya adalah tata kelola pemerintahan dan perumusan kebijakan publik.
Bukan Wisata, ‘Studi Kasus’ Nyata
Meski cuma dua minggu, program ini bukan sekadar jalan-jalan. Bima Arya menekankan bahwa pemda butuh Sumber Daya Manusia (SDM) yang jago dalam urusan uang negara dan pelayanan publik.
Menurutnya, kalau dua hal ini beres, keuangan daerah bakal kuat dan masyarakat pun makin terlayani.

- “Diharapkan selama di Australia bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana tetangga kita yang luar biasa ini memiliki kualitas yang sangat baik untuk meningkatkan pelayanan bagi warganya,” tambah Bima.
Pelayanan Publik di Mall
Salah satu hal paling unik yang akan dipelajari peserta di Australia adalah bagaimana pemerintah bisa lebih dekat dengan warganya.
Bima Arya mencontohkan, di sana informasi pembangunan bisa diakses di mana saja, bahkan di mal.
- Public Expose di Mal: Pemerintah Australia menggelar “pameran” rencana pembangunan di pusat perbelanjaan. Ini memungkinkan warga untuk langsung melihat dan memberikan masukan. Keren, kan ?
- Partisipasi Warga: Pejabat lokal di Australia disebut-sebut sangat terbuka dan dekat dengan warganya. Mereka membuka ruang sebesar-besarnya bagi warga untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan.
Pelatihan ini juga diharapkan bisa menjadi jembatan untuk mengadopsi hal-hal penting lain dari Australia, seperti:
- Hak Disabilitas: Memastikan setiap program dan fasilitas bisa diakses oleh penyandang disabilitas.
- Kesetaraan Gender: Mendorong peran perempuan dan laki-laki yang setara dalam setiap aspek pembangunan.
- Pembangunan Inklusif: Memastikan tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal dalam pembangunan.
Di akhir pesannya, Bima Arya punya harapan besar. Ia ingin para peserta tidak hanya membawa pulang sertifikat, tapi juga solusi nyata.
“Saya berharap kunjungan ini dapat membawa manfaat konkret bagi seluruh kabupaten, kota, dan Indonesia secara keseluruhan,” tutupnya.
Ia berpesan agar setiap pembelajaran di Australia selalu dikaitkan dengan masalah riil di daerah masing-masing.(NR)





