Brasil Rilis Hasil Autopsi Ulang Pendaki Juliana Marins,

Autopsi ulang di Brasil perkuat hasil forensik di Indonesia: Juliana meninggal 15 menit setelah jatuh. Namun, keluarga masih curiga akan dugaan kelalaian penyelamatan.

Brasil  – Tragedi di puncak Gunung Rinjani yang merenggut nyawa wisatawan asal Brasil, Juliana Marins (26), masih menyisakan banyak tanda tanya, terutama bagi keluarganya di Rio de Janeiro. Meski autopsi ulang telah dilakukan di Brasil dan hasilnya tak jauh berbeda dari laporan forensik pertama di Bali, keluarga tetap belum puas. Mereka menduga ada unsur kelalaian dalam proses penyelamatan setelah Juliana jatuh ke jurang dalam pendakian mimpi yang berubah menjadi mimpi buruk.

Sebuah Pendakian Terakhir

Juliana Marins (Foto : dok New York Post)

Juliana Marins, seorang penari dan humas muda dari Brasil, memulai petualangannya ke Asia Tenggara dengan penuh semangat. Ia sempat menjelajahi Vietnam dan Thailand sebelum menapakkan kaki di Indonesia, memilih Gunung Rinjani, gunung setinggi 3.726 meter sebagai destinasi terakhirnya.

Namun, pada Sabtu pagi, 21 Juni 2025, sekitar pukul 06.30 WITA, petualangan itu berubah jadi tragedi. Juliana dilaporkan terjatuh dari tebing saat mendaki di kawasan puncak Rinjani. Sempat terdengar teriakan minta tolong, dan drone pencari bahkan menangkap citra dirinya masih hidup setelah terjatuh. Namun, kabut tebal dan kondisi medan membuat tim penyelamat gagal menjangkaunya tepat waktu.

Autopsi Pertama: Luka Fatal Tak Tertolong

Jasad Juliana akhirnya ditemukan empat hari kemudian, setelah pencarian intensif. Pemeriksaan awal di RS Bali Mandara dilakukan oleh dokter forensik dr. Ida Bagus Putu Alit. Ia mengungkapkan bahwa luka utama terdapat di bagian dada dan punggung, menyebabkan pendarahan hebat di rongga dada.

Ia meninggal dengan cepat akibat trauma tumpul yang menyebabkan pendarahan internal masif,” ujar dr. Alit kepada Wartawan . “Kami menemukan luka serius yang merusak sistem pernapasan dan organ dalam, serta pendarahan besar di area dada,” tambahnya.

Meskipun terdapat cedera kepala, menurut dr. Alit, itu bukan penyebab utama kematian.

Autopsi Ulang di Brasil: Tidak Ada Perbedaan Signifikan

Tekanan dari pihak keluarga membawa jasad Juliana pulang ke Brasil. Autopsi ulang dilakukan oleh ahli forensik di sana. Hasilnya? Tidak jauh berbeda.

Dalam laporan media O Globo yang dikutip pada Sabtu, 12 Juli 2025, disebutkan bahwa Juliana masih hidup selama 10–15 menit setelah benturan pertama, namun dalam kondisi sangat kritis dan tak mampu memberikan respons atau bergerak.

 

Rekaman drone yang diambil oleh para pendaki yang lewat sekitar 200 meter di lereng gunung

Autopsi baru ini melengkapi hasil awal dari Indonesia,” tulis O Globo. “Ahli forensik di Brasil menyatakan bahwa korban mengalami fase agonal, yaitu masa kritis sebelum kematian akibat trauma berat.”

Namun, baik tim forensik Indonesia maupun Brasil sama-sama tidak dapat memastikan waktu kematian secara presisi. Pasalnya, jasad Juliana telah dipindahkan dan disimpan dalam freezer, sehingga memperumit estimasi waktu kematian.

Pertanyaan yang Masih Menggantung

Pihak keluarga tetap bersikukuh bahwa mungkin ada waktu emas yang terlewat untuk menyelamatkan Juliana. Mereka menyoroti lamanya proses evakuasi dan kondisi medan yang disebut-sebut membuat tim penyelamat tak bisa segera turun ke jurang tempat Juliana jatuh.

Kecurigaan ini makin menguat setelah laporan menyebut kemungkinan Juliana mengalami jatuh kedua, yang justru menjadi penyebab luka paling fatal. Sebagian pihak mempertanyakan apakah ia sempat ditinggal terlalu lama tanpa pertolongan.

Estela Marins Ibu Juliana Marins membelakangi kamera, menghadiri pemakaman putrinya,.
(Foto : Dok AP News )

Kami hanya ingin tahu apakah dia benar-benar ditolong secepat mungkin. Jika masih hidup 15 menit, itu waktu yang cukup untuk sesuatu,” ujar salah satu anggota keluarga, seperti dikutip dari media lokal Brasil.

Pesan Terakhir Juliana

Sebelum pendakian, Juliana sempat mengirim pesan terakhir kepada ibunya:

“Mami, aku mencintaimu. Aku hanya takut mengecewakan kalian, bukan pada kesulitan atau bahaya…”

Pesan penuh cinta ini menjadi warisan emosional terakhir dari seorang petualang muda yang ingin melihat dunia, namun tak sempat kembali. (YA)

 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *