Bukan Hanya Angka, Ini Kisah Ratusan Keluarga

Air Mata Bencana Sembilan Hari: Ini Wajah Banjir dan Longsor ketika Melanda  Aceh-Sumatra

Sumatra – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra—Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama kurang lebih sembilan hari terakhir menyisakan duka mendalam.

Hingga Jumat (05/12/2025) petang, total korban meninggal dunia dari data BNPB telah mencapai angka yang mengejutkan, yakni 846 orang.

Skala kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana ini sangat parah. Selain ratusan korban jiwa, data menunjukkan lainnya ada  547 orang dilaporkan hilang, sementara korban luka-luka mencapai 2.700 jiwa.

Foto udara dan citra satelit memperlihatkan kehancuran infrastruktur dan permukiman, menggambarkan betapa hebatnya bencana yang disebut Gubernur Aceh kepada Nasina maupun Internasional sebagai “tsunami kedua”.

Puncak Kengerian di Agam & Kerusakan Infrastruktur

Dampak paling parah dengan jumlah korban jiwa terbanyak terkonsentrasi di Sumatra Barat, khususnya Kabupaten Agam.

Lokasi ini sebelumnya terisolasi, menyulitkan tim evakuasi untuk menjangkau korban.

Palembaya Kabupaten Agam Sumatra Barat-Foto: Dok Goggle Earth
  • Kabupaten Agam, Sumatra Barat: Per Senin (01/12/2025), 118 orang meninggal dunia. Sebanyak 72 orang masih hilang, dan 6.300 jiwa terpaksa mengungsi. Rumah-rumah dan jalanan di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, hancur tersapu air dan lumpur, meninggalkan puing di sekitar Masjid Suhada.

Bencana juga merusak akses vital di provinsi tersebut. Sungai Batang Anai di Kota Padang Panjang dan Kota Padang meluap drastis akibat curah hujan yang ekstrem.

  • Padang Panjang dan Padang: Setidaknya 33 orang meninggal, 32 orang hilang, dan 20.000 warga harus mengungsi. Jembatan Kembar dan sebuah gapura di Padang Panjang luluh lantak, memutus akses utama jalan darat menuju ibu kota Sumatra Barat.

Sumatra Utara dan Aceh Terpukul Keras

Kengerian serupa terjadi di Sumatra Utara dan Aceh, menambah daftar panjang korban dan pengungsian massal.

Kota Sibolga Sumatra Utara-Foto: Dok Goggle Earth

Di Sumatra Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga menjadi wilayah paling terdampak.

  • Tapanuli Tengah: Sedikitnya 86 orang meninggal dunia dan 104 orang masih hilang per Senin (01/12/2025). Sebanyak 2.100 warga kehilangan tempat tinggal. Citra satelit menunjukkan Jalan Sibolga-Barus, akses penting antar kabupaten, terendam banjir.
  • Kota Sibolga: Kota ini mencatat 50 korban meninggal dunia, delapan orang hilang, dan 4.500 orang mengungsi. Kawasan di sekitar Jalan Murai, Kecamatan Sibolga Selatan, tampak ditelan longsor dan banjir.

Sementara di Aceh, krisis pengungsi mencapai skala terbesar di seluruh Sumatra.

Jembatan Putus Di Pidi Jaya Aceh-Foto: Dok Goggle Earth
  • Aceh (Secara Umum): Sebanyak 156 orang meninggal dunia per Senin (01/12). Jumlah pengungsi melampaui 470.000 jiwa, atau sekitar 80 persen dari total pengungsi akibat bencana di Sumatra.
  • Aceh Utara dan Aceh Timur: Dua kabupaten ini menanggung beban pengungsi terbanyak, mencapai 212.000 orang. Tercatat 34 orang meninggal dan 52 orang hilang di area tersebut. Banjir merendam enam kecamatan di sepanjang pesisir pantai, termasuk Seunuddon dan Baktiya Barat.
  • Kabupaten Pidie Jaya: Sebanyak 24.000 orang mengungsi, 17 orang meninggal, dan 18 orang hilang. Bencana memutus jembatan di jalan lintas provinsi Kecamatan Meureudu, yang merupakan penghubung utama Aceh dan Sumatra Utara.

Siklon Langka dan Ancaman Deforestasi

Pemicu utama bencana banjir dan longsor ini disebut-sebut adalah curah hujan ekstrem yang terjadi secara terus-menerus sejak 23 hingga 25 November 2025.

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan hujan ekstrem ini dipengaruhi oleh fenomena iklim langka, yakni Siklon Senyar yang terbentuk di sekitar Selat Malaka.

Sumatra Barat Via Drone-Foto: Dok. BNPD
  • Intensitas Hujan: Curah hujan di atas 100 mm per hari pertama kali melanda sebagian Sumatra Barat (23/11/2025), berlanjut ke Sibolga dan Tapanuli Tengah di Sumatra Utara (24/11), dan puncaknya terjadi di hampir seluruh Aceh (25/11/2025), di mana intensitasnya tiga kali lebih besar.

Namun, elemen struktural lain dituding memperparah bencana. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) pada keterangan resminya menyebut berkurangnya tutupan hutan menjadi faktor kunci yang meningkatkan risiko bencana.

  • Alih Fungsi Hutan: Deforestasi besar-besaran, terutama untuk kebun industri ekstraktif seperti kelapa sawit dan serat kayu, mengurangi kemampuan tanah untuk menahan air.
    • Data Nusantara Atlas menunjukkan, luasan kebun kelapa sawit di tiga provinsi ini mencapai 1,5 juta hektare (setara 57 kali luas Kota Medan), sementara kebun serat kayu seluas 150.000 hektare. Angka ini terus meningkat selama dua dekade terakhir.
  • Aktivitas Pertambangan: Pembukaan lahan untuk tambang mineral dan batubara juga disinyalir memperburuk dampak banjir. Kementerian ESDM mencatat ribuan izin usaha tambang dipegang oleh ratusan perusahaan di tiga provinsi tersebut.

Tragedi 9 hari ini menjadi sorotan serius tentang kesiapsiagaan mitigasi bencana dan manajemen lingkungan di Pulau Sumatra. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *