California, AS – Raksasa teknologi berlomba merilis dan menyempurnakan produk kecerdasan buatan (AI) terbaru, hingga memicu pertanyaan besar bagi miliaran pengguna.
Seberapa banyak data pribadi yang diekstraksi untuk melatih model-model AI ini ?
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, seiring Meta, Google, dan LinkedIn meluncurkan fitur AI yang berpotensi menyerap data dari profil publik hingga email pribadi.
Perusahaan-perusahaan ini seringkali tidak sepenuhnya transparan, mengenai data yang mereka kumpulkan dan penggunaannya.
Jebakan Data Fitur AI Baru
Dilansir dari BBC News, kekurangan transparansi dari perusahaan teknologi telah menciptakan kebingungan signifikan, bahkan memicu penyebaran informasi palsu.
Faktanya, beberapa perusahaan kini telah mengubah kebijakan mereka, membuat sebagian besar pengguna tidak menyadari bahwa informasi mereka mungkin sedang diolah.

- Google (Gmail): Postingan viral Instagram menyebut bahwa Google diam-diam mengaktifkan “sakelar berbahaya” pada 10 Oktober 2025, memberi akses AI untuk membaca setiap email, bahkan lampiran.
- Meta (Facebook, Instagram, WhatsApp): Unggahan di X mengklaim Meta akan mulai “membaca DM, setiap percakapan, setiap foto, setiap pesan suara” mulai 16 Desember 2025 untuk melatih AI dan meraup keuntungan.
Namun, benarkah klaim-klaim tersebut ? Berikut adalah fakta yang terungkap tentang bagaimana platform besar menangani data kita.
Meta: Kebijakan Baru, Minim Opsi Tolak
Meskipun Meta membantah menggunakan pesan pribadi (Direct Messages/DM) di Instagram, WhatsApp, atau Messenger untuk melatih AI, perusahaan ini tetap mengumpulkan konten pengguna yang disetel ke mode “publik”. Ini termasuk foto, postingan, komentar, dan reels.

- Apa yang Dikumpulkan: Konten publik. Jika kita berinteraksi dengan chatbot Meta AI tentang kegiatan mendaki, misalnya, Meta mungkin mulai menampilkan rekomendasi grup atau sepatu mendaki.
- Pengecualian Data Pihak Ketiga: Meta mengakui AI-nya mungkin menggunakan informasi tentang orang yang tidak memiliki akun Meta, jika informasi mereka muncul di postingan publik pengguna lain (misalnya: mention atau caption).
- Bisakah Opt Out ? TIDAK. Jika kita menggunakan platform Meta dengan cara mempublikasikan postingan atau menggunakan chatbot, data kita berpotensi digunakan oleh Meta AI. Tidak ada cara untuk menonaktifkan Meta AI di Instagram, Facebook, atau Threads. Pengguna WhatsApp hanya bisa menonaktifkan opsi bicara dengan Meta AI per chat, bukan secara keseluruhan.
Krystyna Sikora, seorang Analis Riset di Alliance for Securing Democracy, kepada Al Jazeera menyebut bahwa cara terbaik untuk melindungi privasi adalah membaca syarat dan ketentuan.
Sayangnya, Amerika Serikat tidak memiliki undang-undang federal yang komprehensif tentang privasi data teknologi.
Google: Akses Terhubung, Izin Harus Jelas
Klaim bahwa Google AI dapat mengakses setiap email di Gmail, termasuk lampiran, memicu kekhawatiran besar.
- Fakta Gemini Deep Research: Google mengumumkan pada 5 November bahwa produk AI-nya, Gemini Deep Research, dapat terhubung ke produk Google lainnya (Gmail, Drive, Chat). Namun, pengguna harus memberikan izin terlebih dahulu untuk menggunakan alat tersebut dan memilih sumber data mana yang akan digunakan.
- Akses Otomatis (Fitur Cerdas): Google dapat mengakses data pengguna ketika fitur cerdas (smart features) di Gmail dan Google Workplace diaktifkan (yang otomatis aktif di AS). Ini memberi persetujuan Google untuk mengambil konten email dan data aktivitas guna membantu menyusun email atau menyarankan acara Google Calendar.
- Pilihan untuk Opt Out:
- Matikan fitur cerdas di pengaturan Gmail untuk menghentikan akses AI ke Gmail, Drive, dan Meet.
- Gunakan chat “sementara” atau chat tanpa masuk ke akun Gemini untuk mencegah riwayat chat disimpan.
Gugatan di California menuduh Gemini memata-matai komunikasi pribadi. Gugatan tersebut mengklaim bahwa perubahan kebijakan pada bulan Oktober memungkinkan Gemini memiliki akses default ke konten pribadi, dan kini pengguna harus menonaktifkannya secara manual di pengaturan privasi.

LinkedIn: Ada Pilihan Berkata ‘Tidak’
LinkedIn, yang dimiliki oleh Microsoft, menjadi platform yang lebih transparan dengan opsi opt out.
- Penggunaan Data: Mulai 3 November, LinkedIn mengumumkan akan menggunakan data beberapa anggota AS untuk melatih model AI pembuat konten. Data yang dikumpulkan termasuk detail dari profil dan konten publik yang diposting.
- Pengecualian: Pelatihan AI tidak mengambil informasi dari pesan pribadi (private messages) pengguna.
- Bisakah Opt Out ? YA. Juru bicara LinkedIn mengonfirmasi bahwa anggota dapat memilih untuk tidak menggunakan konten mereka untuk tujuan pelatihan AI.
Cara Opt Out di LinkedIn:
- Kunjungi pengaturan privasi data (data privacy).
- Pilih opsi “Data for Generative AI Improvement.”
- Matikan fitur “use my data for training content creation AI models.”
David Evan Harris, Pengajar Etika AI di Universitas California, Berkeley menyoroti bahwa tanpa adanya regulasi federal di AS, masyarakat tidak memiliki hak hukum standar untuk menolak pelatihan AI, tidak seperti di negara-negara seperti Swiss atau Inggris, dikutip dari Al Jazeera.(YA)





