Davos 2026: Nasib Pekerja dan Disrupsi AI

Pemimpin Dunia Bahas Krisis Ekonomi Global

Davos, Swiss — Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 resmi dibuka hari ini, Rabu (21/1/2026), di tengah ancaman disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan ketegangan geopolitik yang meruncing.

Berdasarkan laman Resmi World Economic Forum (WWF)2026, Pertemuan tahunan ini mempertemukan para pemimpin negara dan raksasa teknologi untuk mencari jalan keluar atas ketidakpastian ekonomi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden RI Prabowo Subianto, hingga CEO Nvidia Jensen Huang hadir membawa agenda besar masing-masing.

Trump mencatatkan sejarah dengan membawa delegasi AS terbesar sepanjang masa. Sementara itu, kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dan Jensen Huang dinilai sebagai upaya menyeimbangkan stabilitas politik dengan lompatan teknologi AI.

Penyelenggara WEF 2026 menekankan bahwa tema “Semangat Dialog” diambil untuk merespons dunia yang semakin terfragmentasi.

Fokus utama tahun ini adalah melakukan kalibrasi ulang terhadap pertumbuhan ekonomi dan nasib tenaga kerja manusia di era otomasi.

Foto: Dok. WEF 2026

WFE 2026 juga mengutip bahwa Diskusi panel di Davos mengungkap dampak nyata AI yang merombak berbagai industri:

  • Keuangan: Fokus beralih ke manajemen risiko prediktif dan layanan personal. Bos BlackRock, Larry Fink, memperingatkan bahwa tantangan masa depan adalah dampak AI terhadap ketimpangan ekonomi.
  • Energi: AI menjadi kunci dekarbonisasi melalui optimalisasi jaringan listrik pintar. CEO Aramco, Amin Nasser, menekankan pentingnya pelatihan tenaga kerja untuk menghadapi peluang ini.
  • Properti: AI digunakan untuk perencanaan kota berkelanjutan dan peningkatan efisiensi energi bangunan secara massal.

Antara Kolaborasi dan Fragmentasi

CEO Microsoft Satya Nadella dan CEO Google DeepMind Demis Hassabis menyerukan pentingnya standar keselamatan internasional.

Kepada Media Internasional yang meliput Forum Ekonomi Dunia tersebut termasuk Media Ekonomi Business Today, Para Peserta Beberapa Negara  memperingatkan bahwa persaingan geopolitik dan korporasi yang terburu-buru dapat memicu ketimpangan infrastruktur antarnegara.

Presiden Prancis Emmanuel Macro (Tiga di Kiri ) bersama Peserta Forum-Foto: Dok. WEF 2026

Sementara itu, sejarawan Yuval Noah Harari memberikan peringatan keras akan potensi manipulasi AI terhadap manusia.

Di sisi lain, Wakil PM Tiongkok He Lifeng menegaskan posisi negaranya sebagai mitra kolaboratif. Ia menyatakan bahwa pembangunan teknologi di Tiongkok adalah peluang global, bukan ancaman, dan berkomitmen untuk membuka pasar yang lebih adil bagi standar internasional.

Meski dipenuhi optimisme, Davos 2026 juga diwarnai keraguan. Data menunjukkan banyak organisasi telah memulai proyek AI.

Namun sangat sedikit yang berhasil menerapkannya secara luas karena hambatan internal.

Mantan petinggi IMF, Gita Gopinath, mengingatkan bahwa meskipun AI meningkatkan produktivitas, keuntungan finansial jangka panjangnya masih belum pasti di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.

Foto: Dok. Business Today

Sementara itu Meski dihadiri lebih dari 3.000 delegasi, forum ini juga diwarnai aksi boikot dan absensi sejumlah tokoh penting.

Pemerintah Denmark secara resmi menarik diri akibat perselisihan diplomatik terkait isu Greenland.

Selain itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membatalkan kehadirannya secara mendadak. Ketidakhadiran Presiden Tiongkok Xi Jinping serta pemimpin dari Brasil dan India (Global South) juga menjadi sinyal kuat adanya keretakan dalam koordinasi ekonomi global.

Dari daratan Eropa, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan pemimpin Italia Giorgia Meloni juga tidak masuk dalam daftar delegasi resmi. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketidakpastian politik domestik masih menjadi hambatan bagi kolaborasi internasional.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *