Delcy Rodriguez Resmi Jadi Presiden Interim Venezuela

Maduro Ditangkap, Rodriguez Ambil Alih Kekuasaan

Caracas – Peta politik Venezuela berubah drastis dalam sekejap. Wakil Presiden Delcy Rodriguez resmi dilantik sebagai Presiden Interim Venezuela dalam sidang parlemen pada Senin (6/1/2026) waktu setempat.

Langkah ini diambil hanya dua hari setelah  Presiden Nicolas Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat (AS).

Penangkapan tersebut dilakukan melalui operasi militer mendadak yang mengguncang stabilitas kawasan.

Sumpah di Tengah Krisis

Rodriguez (56), yang merupakan loyalis lama Maduro, memberikan pidato dengan nada tinggi di hadapan Majelis Nasional.

Ia menyebut penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sebagai bentuk “penculikan” oleh kekuatan asing.

“Saya menerima amanah ini dengan rasa sakit akibat penderitaan yang disebabkan oleh agresi militer yang tidak sah,” ujar Rodriguez seperti dikutip The Guardian

3 Pidato Yang Ditekankan Rodriguez:

  • Menjamin Stabilitas: Berjanji menjaga perdamaian sosial dan ekonomi rakyat.
  • Kecaman Keras: Menyebut tindakan AS melanggar kedaulatan negara.
  • Sinyal Diplomasi: Membuka peluang kolaborasi dengan Washington selama sesuai hukum internasional.

Hanya terpaut dua jam sebelum pelantikan di Caracas, Nicolas Maduro muncul di pengadilan federal New York. Di hadapan Hakim Alvin Hellerstein, ia membantah dakwaan konspirasi narco-terorisme dan impor kokain.

“Saya adalah pria terhormat. Saya masih presiden sah negara saya,” tegas Maduro dalam sidang singkat selama 30 menit tersebut.

Situasi sempat memanas ketika seorang pengunjung meneriakinya, namun Maduro membalas dengan menyebut dirinya sebagai “tahanan perang”. Ia kini dijadwalkan kembali menjalani persidangan pada 17 Maret mendatang.

Respon Dunia dan Kritik Internal AS

Penangkapan Maduro memicu perdebatan sengit di markas besar PBB. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, membela operasi tersebut dengan alasan keamanan nasional dan penegakan hukum terhadap “buronan keadilan”.

Namun, langkah pemerintahan Donald Trump ini tidak sepenuhnya mendapat dukungan di dalam negeri AS. Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, melontarkan kritik tajam terkait masa depan Venezuela.

“Setiap kali AS melakukan perubahan rezim, hal itu selalu berakhir merugikan Amerika Serikat sendiri,” kata Schumer setelah menerima arahan rahasia di Capitol Hill.

Hingga saat ini, meskipun Trump berencana mengirim perusahaan minyak untuk memperbaiki infrastruktur Venezuela, sekutu Maduro di bawah kepemimpinan Rodriguez tampak masih memegang kendali penuh atas pemerintahan di Caracas.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *