Teheran,Iran – Gelombang protes besar-besaran terus mengguncang Iran meski pemerintah melakukan tindakan keras dan memutus total akses internet sejak Kamis (8/1/2026) lalu.
Ribuan demonstran tetap turun ke jalan-jalan di Teheran hingga Mashhad, menuntut perubahan rezim di tengah laporan jatuhnya ratusan korban jiwa akibat tembakan aparat.
Meskipun akses komunikasi dibatasi secara ketat, rekaman video yang berhasil bocor ke dunia luar menunjukkan massa meneriakkan slogan anti-pemerintah.
Di Teheran, Berdasarkan Pantauan Media AFP, warga membakar kembang api dan memukul panci sebagai bentuk perlawanan, sementara di Mashhad, api unggun menyala di jalanan sebagai simbol pembangkangan di kota kelahiran Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kesaksian Mengerikan dari Balik Blokade
Kondisi di lapangan dilaporkan sangat mencekam. Melalui pesan singkat yang dikirim via sistem satelit Starlink, seorang pengunjuk rasa di wilayah Tajrish, Teheran, menceritakan kehadiran penembak jitu (sniper) yang bersiaga di atap gedung.

“Kami sedang memperjuangkan revolusi, tapi kami butuh bantuan. Banyak orang ditembak di seluruh kota, kami melihat ratusan jenazah,” ungkap pengunjuk rasa tersebut kepada AFP.
Meski klaim jumlah jenazah tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, lembaga hak asasi manusia menyatakan bahwa laporan mengenai brutalitas polisi ini konsisten dengan kesaksian para aktivis lainnya.
Situasi Terkini di Iran:
- Jumlah Protes: Lebih dari 570 aksi demonstrasi telah terjadi di seluruh 31 provinsi di Iran.
- Korban Jiwa: Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) melaporkan sedikitnya 116 orang tewas dan lebih dari 2.600 orang ditahan.
- Ancaman Hukuman: Jaksa Agung Iran, Mohammad Mahvadi Azad, menyatakan demonstran dapat dianggap sebagai “musuh Tuhan” yang diancam hukuman mati.
- Blokade Digital: Pemutusan internet secara presisi dilakukan otoritas untuk mencegah pengiriman dokumentasi kekerasan ke dunia internasional.
Ketegangan Geopolitik dan Ancaman Militer
Situasi domestik Iran kini mulai menyeret perhatian internasional. Presiden AS, Donald Trump, melalui platform Truth Social menyatakan dukungannya terhadap kebebasan di Iran dan memperingatkan pemerintah Iran agar tidak melanjutkan penembakan terhadap warga sipil.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memberikan peringatan keras.
Ia menyatakan bahwa militer AS dan Israel akan menjadi “target sah” jika Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan serangan militer ke wilayah Iran.
Protes ini awalnya dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi pada akhir Desember lalu. Namun, tuntutan massa dengan cepat berubah menjadi gerakan politik untuk menggulingkan kekuasaan ulama yang telah bertahan sejak Revolusi Islam 1979.
Para analis menilai posisi pemerintah Iran saat ini lebih rentan dibanding periode protes sebelumnya.
Kelemahan ini dipicu oleh dampak konflik regional dan melemahnya kekuatan proksi Iran di Timur Tengah.
Hingga saat ini, stasiun televisi pemerintah terus berusaha menampilkan situasi seolah-olah normal, sembari memperingatkan orang tua untuk melarang anak-anak mereka ikut serta dalam aksi massa.(YA)





