Davos – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim dunia kini jauh lebih aman, kaya, dan damai dibandingkan setahun lalu.
Pernyataan ini disampaikan dalam peluncuran resmi inisiatif “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (23/1/2026).
Trump menyebut lembaga baru ini akan menjadi salah satu badan paling berpengaruh yang pernah dibentuk dalam sejarah dunia.
Acara penandatanganan tersebut juga menjadi momentum penting bagi pengumuman langkah-langkah gencatan senjata di Gaza serta rencana administrasi baru di wilayah tersebut.
Rencana Besar untuk Masa Depan Gaza
Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, pejabat AS dan Palestina memaparkan cetak biru pengelolaan Gaza pasca-konflik.
Wilayah tersebut nantinya akan dikelola oleh administrasi teknokratis yang dipimpin oleh warga Palestina dan telah disusun di Kairo, Mesir.
Menantu Trump, Jared Kushner, merincikan rencana strategis untuk 100 hari ke depan yang mencakup beberapa poin utama:
- Peningkatan signifikan pengiriman bantuan kemanusiaan.
- Rehabilitasi infrastruktur vital seperti air, listrik, dan sistem pembuangan limbah.
- Pembangunan kembali fasilitas umum termasuk rumah sakit dan toko roti.
- Penyatuan wilayah Gaza dengan zona penyangga di sepanjang perbatasan Israel.

Momen paling dramatis terjadi saat Ali Shaath, pejabat Palestina yang ditunjuk memimpin administrasi sementara, muncul melalui sambungan video.
Ia mengumumkan bahwa gerbang Rafah akan dibuka kembali pekan depan untuk lalu lintas dua arah untuk pertama kalinya sejak Mei 2024.
“Pembukaan Rafah adalah sinyal bahwa Gaza tidak lagi tertutup bagi masa depan maupun dunia,” ujar Shaath dengan nada optimis seperti di kutip oleh The Guardian.
Meski disambut meriah di Davos, langkah ini diperkirakan akan memicu ketegangan dengan koalisi pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Sebagian menteri di kabinet Israel secara tegas menolak pembukaan Rafah sebelum jenazah sandera Israel, Ran Gvili, dikembalikan oleh Hamas.
Kabinet Israel dijadwalkan akan menggelar pertemuan darurat pada Jumat 23 Januari 2026 waktu setempat untuk membahas perkembangan di Davos.
Di sisi lain, Trump tetap fokus pada pencapaiannya dan mengklaim telah menghentikan delapan perang selama masa jabatannya.
Diplomasi Global dan Masa Depan PBB
Acara tersebut dihadiri oleh pemimpin dan menteri dari 19 negara, termasuk Indonesia, Arab Saudi, Yordania, dan Argentina. Trump duduk berdampingan dengan Menteri Luar Negeri Maroko, Nasser Bourita, dan Syekh Salman bin Hamad Al Khalifa dari Bahrain untuk menandatangani dokumen peresmian.

Terkait kekhawatiran bahwa Dewan Perdamaian ini akan menggantikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump memberikan jawaban yang diplomatis namun terbuka.
Ia menyebut kerja sama antara dewan barunya dan PBB bisa menjadi sesuatu yang sangat unik bagi dunia.

“Apakah badan ini akan menggantikan PBB? Mungkin saja,” ujar Trump singkat saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai peran geopolitik dewan tersebut di masa depan.
Namun Meski Banyak negara mendukung, Inggris memilih untuk tidak bergabung saat ini. Sekretaris Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyatakan keberatannya karena menyangkut perjanjian hukum yang luas dan keterlibatan pihak-pihak tertentu.
“Kami memiliki kekhawatiran tentang Presiden Vladimir Putin menjadi bagian dari pembicaraan damai, sementara kita belum melihat komitmen nyata terkait perdamaian di Ukraina,” tegas Cooper.
Rusia sendiri belum menghadiri Forum Ekonomi Dunia sejak tahun 2022. Hingga saat ini, Putin dikabarkan masih berkonsultasi dengan mitra strategisnya sebelum memutuskan apakah akan berkomitmen pada rencana Dewan Perdamaian bentukan Trump tersebut.(NR)





