Washington, AS – Presiden Donald Trump kembali membuat gebrakan, dengan merombak total kamar mandi di Kamar Tidur Lincoln Gedung Putih, mengganti gaya lama dengan tampilan baru yang didominasi marmer hitam putih dan perlengkapan serba emas.
Perubahan ini merupakan bagian terbaru dari serangkaian modifikasi yang ia lakukan di Gedung Putih, sesuai seleranya.
Trump mengumumkan renovasi tersebut, bahkan mengunggah dua lusin foto di media sosial pribadinya yang memperlihatkan kamar mandi mewah yang baru.
Presiden Trump bersikeras bahwa desain baru, dengan keran dan lampu emas, adalah “sangat sesuai untuk era Abraham Lincoln.”
“Art Deco tidak cocok dengan, Anda tahu, 1850 dan perang saudara dan semua masalah,” kata Trump kepada New York Time .
Trump juga sempat mengkritik gaya sebelumnya dengan mengatakan bahwa “Tetapi yang cocok adalah marmer patung. Jadi saya merobeknya dan kami membangun kamar mandi. Benar-benar cantik dan sepenuhnya sesuai dengan waktu itu.”
Anggaran dan Kritik Sejarawan
Gedung Putih tidak memberikan tanggapan terkait pertanyaan mengenai siapa yang membayar renovasi tersebut, berapa biayanya, atau kontraktor mana yang mengerjakannya.
Hal itu memicu pertanyaan dari para kritikus tentang pendanaan, dan kurangnya transparansi dari proyek presiden tersebut.
Di sisi lain, perubahan gaya ini langsung menuai kritik dari sejarawan yang mempertanyakan klaim kesesuaian dengan era Lincoln.

Edward Lengel, yang pernah menjabat sebagai kepala sejarawan White House Historical Association, menyatakan keraguannya saat melihat foto-foto yang diunggah Trump.
“Bagi saya, tidak terlihat seperti interior tahun 1860-an sama sekali,” ujar Lengel.
Sementara itu, Michael F. Bishop, mantan direktur eksekutif Abraham Lincoln Bicentennial Commission, menjelaskan bahwa di masa kepresidenan Lincoln, area kamar mandi tersebut dulunya hanyalah ruang duduk, dan kecil kemungkinannya menggunakan marmer.
“Perubahan Trump pada kamar mandi adalah kejahatan terhadap pelestarian sejarah atau semacamnya. Itu hanya kamar mandi yang terlihat cukup kuno,” kata Bishop.
Kamar mandi yang direnovasi ini sebelumnya telah dirombak oleh Presiden Harry Truman pada 1945, yang gayanya berulang kali dikritik oleh Trump sebagai “tidak bagus.”
Dalam konteks sejarah, Harold Holzer, sejarawan dan penulis tentang Lincoln, mengingatkan bahwa ketika Lincoln pindah ke Gedung Putih pada tahun 1861, ia dan keluarganya merasa kamar mandi yang ada sudah merupakan peningkatan besar dari tempat tinggal mereka sebelumnya.

“Lincoln punya jamban di Springfield, dan entah apa yang ia miliki saat tinggal di pondok kayu bersama orang tuanya, jadi kamar mandi yang biasa-biasa saja sudah baik baginya,” kata Holzer.
“Dia pikir itu adalah peningkatan langkah yang luar biasa.” Kutip The New York Time
Renovasi Total East Wing
Trump memiliki keleluasaan luas sebagai presiden untuk melakukan perubahan di Gedung Putih, namun renovasi terbaru ini, termasuk pembongkaran di East Wing yang juga dilakukannya.
Hal itu terus memicu perdebatan mengenai penggunaan anggaran, dan sensitivitas sejarah di kediaman kepresidenan tersebut.
Ia merobohkan seluruh East Wing (Sayap Timur), yang telah berdiri selama lebih dari satu abad, untuk memberikan ruang bagi rencana pembangunan ruang dansa (ballroom) seluas 90.000 kaki persegi.
Pembangunan ruang dansa dengan biaya $ 300 Juta, yang menurut Trump diperlukan untuk menerima tamu kehormatan. Rencananya untuk ukuran ruang dansa tersebut terus bertambah luas.
Trump mengatakan bahwa ia dan sekelompok donatur bukan pembayar pajak, yang menanggung biaya ruang dansa tersebut.
Stafnya telah merilis daftar donatur, tetapi belum menyebutkan berapa banyak yang telah disumbangkan oleh masing-masing donatur.
Uang tersebut disetorkan ke Trust for the National Mall, sebuah entitas nirlaba yang dibebaskan dari pajak dan tidak tunduk pada undang-undang transparansi.
Ia juga telah menambahkan lis emas dan dekorasi emas di seluruh Oval Office (Kantor Oval), dan ornamen emas di Cabinet Room (Ruang Kabinet).
Ia menebang pohon magnolia bersejarah di Gedung Putih, yang ditanam oleh Presiden Andrew Jackson pada tahun 1829 untuk mengenang istrinya, Rachel.

Ia menghapus foto Hillary Clinton dan menggantinya dengan gambar wajahnya sendiri yang diwarnai dengan bendera Amerika.
Ia menambahkan lantai marmer dan lampu gantung (chandelier) di Palm Room. Ia melapisi rumput Rose Garden dengan paving untuk menambahkan teras.
Di sepanjang barisan tiang (colonnade) West Wing (Sayap Barat), ia menambahkan foto berbingkai emas dari setiap presiden Amerika kecuali pendahulunya, Joseph R. Biden Jr., yang ia gambarkan sebagai tandatangan otomatis (autopen).
Trump dan anggota staf Gedung Putih mengatakan bahwa presiden diberikan kewenangan luas untuk melakukan renovasi pada properti tersebut. Trump mengatakan ia tidak tunduk pada peraturan zonasi atau persyaratan izin.(YA)





