Elon Musk Bersaksi di Sidang Manipulasi Saham

Investor Tuduh Musk Sengaja Jatuhkan Harga Twitter

San Francisco – Miliarder Elon Musk akhirnya naik ke kursi saksi dalam persidangan gugatan kelompok (class action) di pengadilan federal San Francisco, Rabu (4/3/2026) waktu setempat.

Musk dituduh melakukan penipuan sekuritas dengan sengaja merusak reputasi Twitter demi menekan harga saham saat proses akuisisi pada 2022 lalu.

Para investor menuding Musk menggunakan taktik “tarik ulur” untuk mendapatkan harga yang lebih murah setelah sepakat membeli Twitter senilai AS$44 miliar.

Meski akhirnya ia tetap membayar AS$54,20 per saham, fluktuasi harga yang dipicu oleh cuitannya dianggap telah merugikan pemegang saham secara masif.

Dalam keterangannya yang dikutip The Guardian , pengacara investor, Aaron Arnzen, menyatakan bahwa Musk secara sadar menciptakan tontonan publik untuk merendahkan nilai perusahaan.

Tujuannya adalah untuk melarikan diri dari kesepakatan awal atau melakukan negosiasi ulang harga, Seperti :

  • Tudingan Akun Bot: Musk terus-menerus mencuit bahwa Twitter dipenuhi akun palsu (spam/bot) hingga mencapai 20%, yang memicu ketidakpastian pasar.
  • Status “On Hold”: Cuitan Musk pada Mei 2022 yang menyebut akuisisi ditangguhkan sementara membuat saham Twitter anjlok hingga 20% dalam 24 jam.
  • Kerugian Real Investor: Banyak investor menjual saham mereka di bawah harga AS$54,20 karena khawatir kesepakatan akan batal akibat retorika Musk.

Pembelaan Musk

Di hadapan hakim Charles Breyer, Musk membantah bahwa cuitannya dirancang untuk memanipulasi pasar. Ia berkilah bahwa dampak dari aktivitas media sosialnya tidak selalu bisa diprediksi dan seringkali bertolak belakang dengan harapan.

“Pasar saham itu seperti pengidap manik depresif,” ujar Musk saat ditanya mengenai pengaruh cuitannya terhadap harga saham. Ia mengakui bahwa cuitan “on hold” mungkin bukan langkah bijaknya, namun ia tidak menyangka hal itu akan memicu penurunan tajam.

Kuasa hukum Musk, Michael Lifrak, menegaskan bahwa kekhawatiran kliennya mengenai akun bot adalah nyata dan bukan merupakan upaya penipuan. Menurutnya, Musk hanya menyuarakan keluhan sah terhadap transparansi data Twitter saat itu.

Jika juri memutuskan Musk bersalah, ia diwajibkan membayar ganti rugi atas kerugian yang dialami para investor. Kasus ini juga dapat memengaruhi penyelidikan SEC terkait keterlambatan Musk dalam melaporkan kepemilikan saham awalnya di Twitter.

Saat ini, Twitter telah berganti nama menjadi X dan berada di bawah payung bisnis Musk lainnya. Di tengah tekanan hukum ini, Musk yang memiliki kekayaan lebih dari AS$800 miliar juga sedang mempersiapkan SpaceX untuk melantai di bursa saham (IPO) yang diprediksi akan memecahkan rekor dunia.

Persidangan ini dijadwalkan berlangsung selama dua hingga tiga minggu ke depan untuk menentukan apakah sang miliarder terbukti melakukan manipulasi pasar secara sengaja atau tidak.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *