California, AS – CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk melontarkan peringatan keras mengenai kondisi fiskal Amerika Serikat (AS).
Menurut Musk, Negeri Paman Sam berada di jalur berbahaya menuju kebangkrutan akibat lonjakan utang nasional yang tak terkendali.
Dalam wawancara di Dwarkesh Podcast, Musk menegaskan bahwa tanpa terobosan besar di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan robotika, Amerika Serikat berpotensi gagal sebagai sebuah negara.
“Kita 1.000 persen akan bangkrut sebagai negara dan gagal sebagai negara tanpa AI dan robot. Tidak ada hal lain yang akan menyelesaikan utang nasional,” ujar Musk.
Utang Nasional AS Terus Membengkak
Peringatan Musk didukung oleh data fiskal terbaru. Dikutip dari Yahoo Finance, laporan Departemen Keuangan AS menunjukkan bahwa utang nasional kini telah mencapai 38,56 Triliun Dolar AS atau setara sekitar Rp. 649.000 Triliun (kurs: 16.855).
Angka ini terus meningkat seiring belanja pemerintah yang jauh melampaui penerimaan negara.
Sepanjang tahun fiskal 2026 berjalan, defisit anggaran tercatat mencapai sekitar 602 Miliar Dolar AS, menandakan tekanan serius pada stabilitas keuangan negara.
Musk menggambarkan situasi ini sebagai kondisi yang “benar-benar kacau”, dengan laju pertumbuhan utang yang menurutnya sudah berada di luar batas kewajaran.
Beban Bunga Melebihi Anggaran Militer
Salah satu sorotan utama Musk adalah besarnya beban bunga utang. Ia menyebut pembayaran bunga utang nasional kini telah melampaui anggaran pertahanan AS.
“Pembayaran bunga atas utang nasional melebihi anggaran militer, yang sebesar satu triliun dolar AS. Jadi kita memiliki lebih dari satu triliun dolar AS hanya untuk membayar bunga,” ungkapnya.
Kondisi ini dinilai berisiko menekan ruang fiskal pemerintah, membatasi belanja produktif, serta mengancam daya saing ekonomi AS dalam jangka panjang. Tekanan fiskal tersebut diperkirakan masih akan memburuk.
Laporan Committee for a Responsible Federal Budget memproyeksikan pembayaran bunga utang AS akan menembus 1,5 Triliun Dolar AS pada 2032 dan meningkat menjadi 1,8 Triliun Dolar AS pada 2035.
Dalam konteks ini, Musk melihat AI dan robotika sebagai solusi struktural untuk meningkatkan produktivitas ekonomi secara masif, menekan biaya, dan memperluas basis penerimaan negara.
Tanpa lonjakan produktivitas berbasis teknologi, Musk menilai ekonomi AS akan kesulitan keluar dari jebakan utang yang semakin dalam, sekaligus menghadapi risiko perlambatan pertumbuhan di tengah beban fiskal yang terus menumpuk. (NR)





