Sydney, Australia — Sepakbola wanita Afghanistan menemukan titik terang. FIFA menggelar kamp bakat perdana untuk tim pengungsi Afghanistan di Sydney .
Ini merupakan langkah nyata membangun skuat 23 pemain, untuk pertandingan persahabatan global tahun ini.
Langkah ini muncul setelah sebagian besar pemain tim nasional mengungsi, karena takut akan penindasan ketika Taliban merebut kekuasaan 2021.
Federasi Sepakbola Afghanistan di bawah Taliban resmi melarang semua olahraga perempuan, dan menghancurkan impian para atlet yang ingin tampil di kualifikasi Piala Dunia.
Dengan adanya larangan itu, tidak ada dukungan resmi dari federasi nasional, yang merupakan syarat utama untuk bermain di level internasional.
FIFA pun kemudian menyetujui pembentukan tim pengungsi dengan menunjuk Pauline Hamill mantan pemain nasional Skotlandia sebagai pelatih utama.
“Sangat membahagiakan bisa berkumpul lagi bersama para pemain,” ujar Hamill dikutip dari Situs Resmi FIFA.
Ia menyebut kamp bakat adalah kesempatan untuk mengevaluasi kemampuan mereka, dan menciptakan memori berharga sebagai sebuah tim kembali bermain bersama.
Harapan Wanita Afghanistan
Presiden FIFA, Gianni Infantino menegaskan proyek ini sebagai pijakan awal yang penting. Menurutnya, memberikan kesempatan tampil di kancah internasional sambil menjamin keselamatan pemain adalah prioritas utama.
“Kami bangga menyalakan kembali proyek ini dan berharap bisa memperluasnya ke negara lain,” katanya kepada Al Jazeera.
FIFA juga berkomitmen menyediakan perlengkapan, membangun relasi ke klub lokal, memberikan pelatihan media, serta membuka akses pendidikan dan konseling bagi para pemain.
Nilab, salah satu peserta kamp berbagi kisahnya, “Tujuan saya bukan hanya diri saya sendiri. Ini tentang seluruh Afghanistan, terutama perempuan dan anak perempuan,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera.
Ia menyebut proyek ini mengajarkannya solidaritas dan cara mewakili negerinya. FIFA berharap pemain dari kamp bakat ini dapat tampil di laga persahabatan resmi tahun ini.
Jika semua berjalan lancar, tim pengungsi ini akan menjadi simbol kebangkitan sepakbola wanita Afghanistan di panggung internasional, tanpa perlu pengakuan dari federasi nasional Taliban.
Kisah ini bukan hanya soal olahraga, tapi tentang keberanian perempuan yang memilih bermain demi hak dan identitas mereka. (YA)





