Roma, Italia — Di tengah persiapan Timnas Italia menghadapi dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026, sebuah surat resmi yang mengguncang dunia sepakbola datang dari Asosiasi Pelatih Sepakbola Italia (AIAC).
Dengan suara bulat, asosiasi ini menyampaikan permohonan kepada Federasi Sepakbola Italia (FIGC), UEFA, dan FIFA untuk mendesak agar Timnas Israel dilarang berpartisipasi di semua ajang sepakbola internasional.
“Israel harus berhenti. Sepakbola juga harus bertindak,” tulis AIAC dalam surat yang diumumkan di situs resmi mereka.
Tindakan ini bukan sekadar simbolis, melainkan sebuah “pilihan yang diperlukan sebagai respons terhadap keharusan moral.”
Pernyataan tersebut mendapatkan suara dari Wakil Presiden AIAC, Giancarlo Camolese yang menegaskan bahwa, “Kami bisa saja fokus bermain, dan tidak peduli. Tapi kami yakin itu tidak benar.” Permintaan ini datang hanya beberapa minggu sebelum Timnas Italia dijadwalkan bertanding melawan Israel, yang membuat seruan tersebut terasa semakin mendesak.
Sepakbola di Pusaran Geopolitik
Seruan dari Italia ini bukanlah kejadian terisolasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pertandingan yang melibatkan Timnas Israel kerap kali menjadi medan pertempuran politik dan kemanusiaan.

- Pada Oktober 2024 dalam ajang Nations League, pertemuan antara Italia dan Israel memicu protes besar, memaksa pihak berwajib untuk memperketat keamanan hingga menempatkan penembak jitu di atas stadion.
- Pada November di tahun yang sama, kerumunan besar berkumpul di dekat Stade de France untuk memprotes pertandingan antara Prancis dan Israel. Sebuah spanduk bertuliskan, “Kami tidak bermain-main dengan genosida,” menjadi simbol protes. Skuad Israel bahkan harus dikawal ketat oleh polisi saat tiba.
- UEFA sendiri menunjukkan sikapnya, salah satunya ketika membentangkan spanduk “Hentikan Pembunuhan Anak-Anak. Hentikan Pembunuhan Warga Sipil” pada Piala Super UEFA, tak lama setelah pemain bintang Liverpool, Mohamed Salah, mempertanyakan respons federasi atas kematian seorang pemain sepakbola Palestina.
- Di bulan Maret 2023, FIFA mencabut hak Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 setelah protes besar dari publik dan beberapa pejabat daerah atas partisipasi Timnas Israel.
Tuntutan AIAC ini kembali membuka luka lama dalam sejarah sepakbola Israel. Meskipun secara geografis berada di Asia Barat, Israel menjadi anggota UEFA pada tahun 1994.
Keputusan ini diambil setelah mereka dikeluarkan dari Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada tahun 1974, akibat boikot politik dari negara-negara Arab dan Muslim yang menolak untuk bermain bersama mereka.
Sejak saat itu, Israel sempat berkompetisi di bawah naungan konfederasi Oceania (OFC) sebelum akhirnya menetap di UEFA.
Saat Moral & Olahraga Berbenturan
Hingga saat ini, baik FIGC, UEFA, maupun FIFA belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuntutan AIAC. Tuntutan ini memaksa dunia sepakbola untuk kembali melihat cermin dan mempertanyakan jati dirinya.
Apakah lapangan hijau tetap bisa menjadi ruang netral yang bebas dari konflik politik, atau justru menjadi panggung bagi pergerakan moral yang tak bisa dihindari ?
Seruan dari AIAC bukan hanya tentang sebuah tim yang dilarang bertanding, melainkan tentang sebuah olahraga yang dihadapkan pada dilema moral terbesar di era modern.
Pada akhirnya, sepakbola tidak hanya dimainkan oleh para atlet, tetapi juga oleh hati nurani, dan kini, hati nurani tersebut menyerukan sebuah tindakan yang tegas. (VT)
Baca juga :





