Gaji Miliaran, Gim Bukan Lagi Sekadar Hobi

Korea Selatan Ubah Candu Jadi Tambang Uang

Seoul, Korea SelatanSon Si-woo masih ingat betul saat ibunya memaksa mematikan komputer di tengah sesi wawancara penting. Kala itu, ia sedang berjuang meniti karier sebagai pemain gim profesional atau pro-gamer.

Sang ibu menganggap gim adalah candu yang merusak kepribadian. Namun, segalanya berubah saat Si-woo memenangkan turnamen amatir dan membawa pulang hadiah 2 juta won (sekitar Rp23 juta) untuk orang tuanya.

Kini, pria berusia 27 tahun yang dikenal dengan nama “Lehends” tersebut adalah bintang di dunia League of Legends. Ia bermain untuk Nongshim RedForce, tim profesional yang disokong oleh salah satu raksasa perusahaan pangan di Korea Selatan.

Lehends (kiri) dan Kingen pemain profesional dari tim Nongshim RedForce-Foto: Dok. The Guardian (Raphael Rashid)

Transformasi Radikal Pandangan Pemerintah

Kisah Lehends yang ditulis The Guardian ini  mencerminkan perubahan besar cara pandang Korea Selatan terhadap dunia gim.

Jika pada 2013 pemerintah sempat ingin mengategorikan gim sebagai “kecanduan sosial” setara narkoba dan alkohol, kini kondisinya berbalik 180 derajat.

Baru-baru ini, Presiden Lee Jae-myung menegaskan bahwa gim bukanlah zat adiktif. Dukungan ini memperkuat posisi industri gim sebagai tulang punggung ekonomi baru negara tersebut.

Beberapa fakta pertumbuhan industri gim Korea Selatan meliputi:

  • Pertumbuhan Pasar: Meningkat 47% antara 2019-2023 dengan nilai mencapai 22,96 triliun won.
  • Dominasi Ekspor: Menyumbang hampir dua pertiga dari total ekspor konten budaya Korea, jauh melampaui K-Pop.
  • Peringkat Dunia: Korea Selatan kini duduk di peringkat keempat pasar gim global, di bawah AS, Tiongkok, dan Jepang.

Dulu, remaja Korea dipaksa berhenti bermain gim saat tengah malam melalui aturan hukum. Sekarang, mereka justru masuk ke akademi khusus seperti Nongshim Esports Academy untuk mengasah kemampuan.

Para pemain di sebuah PC bang, atau warnet, di distrik Guro, Seoul Barat-Foto: Dok. The Guardian (Raphael Rashid)

Di akademi ini, pelatihan dilakukan dengan standar atlet elite. Para siswa tidak hanya bermain, tetapi juga melakukan analisis video, strategi tim, hingga mendapatkan pendampingan psikologis dan nutrisi.

“Jika Anda tidak cukup hebat, Anda harus menyerah dengan cepat. Itulah realita pasarnya,” ujar Hwang Sung-hoon, rekan setim Lehends yang dikenal sebagai “Kingen”.

Persaingan Ketat Menuju Puncak

Meski menjanjikan gaji besar hingga angka enam digit (dalam dolar AS), jalan menuju profesional sangatlah terjal. Hanya sekitar 1% hingga 2% siswa akademi yang berhasil menembus level profesional.

Aiden Lee, Sekretaris Jenderal League of Legends Champions Korea (LCK), mengungkapkan rahasia dominasi pemain Korea di kancah dunia adalah intensitas latihan yang luar biasa.

“Pemain pro Korea bisa berlatih lebih dari 16 jam sehari. Tingkat fokus dan durasi latihan mereka sangat berbeda,” kata Aiden Lee kepada The Guardian

Pemerintah kini berperan sebagai penyeimbang. Sambil mendorong pertumbuhan ekonomi, mereka juga menyediakan tujuh “pusat penyembuhan” bagi remaja yang dianggap terlalu terobsesi pada gim, demi memastikan kompetisi tetap berjalan sehat.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *