Guadalajara – Pemimpin tertinggi salah satu organisasi kriminal paling berbahaya di dunia, Nemesio Rubén Oseguera Cervantes alias “El Mencho”, tewas dalam baku tembak sengit dengan militer Meksiko di negara bagian Jalisco, Minggu (22/2/2026).
Kematian bos besar Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG) ini memicu gelombang kekerasan balasan yang masif, memaksa penutupan sekolah, pelumpuhan bandara, hingga peringatan keamanan internasional bagi warga asing di Meksiko.
Kota-kota Lumpuh Total
Berdasarkan Pantauan AP News, Suasana mencekam menyelimuti Guadalajara dan sekitarnya sesaat setelah kabar tewasnya El Mencho tersiar.
Anggota kartel merespons dengan aksi anarkis di 20 negara bagian, membakar kendaraan, dan membangun lebih dari 250 blokade jalan untuk melumpuhkan pergerakan aparat.
Di Bandara Internasional Guadalajara, para penumpang yang baru mendarat terjebak dalam ketakutan.
Jacinta Murcia (64), seorang pedagang produk nutrisi, berjalan tergesa di lorong bandara yang sepi sementara anak-anaknya terus memantau lokasinya melalui ponsel.
“Saya takut segalanya. Takut ada blokade, takut jam malam, takut sesuatu terjadi. Saya sendirian di sini,” ujar Jacinta lirih. Sebelumnya, para pelancong di bandara dilaporkan sempat berlarian dan bersembunyi di balik kursi saat kekerasan pecah di area sekitar.
Dukungan Intelijen Amerika Serikat
Kematian El Mencho bukan sekadar operasi rutin, melainkan hasil kerja sama tingkat tinggi. Berikut adalah poin-poin penting terkait operasi tersebut:
- Lokasi Kejadian: Baku tembak terjadi di Tapalpa, Jalisco, sekitar dua jam dari Guadalajara.
- Penyebab Kematian: El Mencho terluka parah saat akan ditangkap dan dinyatakan meninggal dunia saat dievakuasi melalui jalur udara menuju Mexico City.
- Korban Jiwa: Selain El Mencho, empat anggota kartel tewas di lokasi. Di pihak pemerintah, sedikitnya tujuh personel Garda Nasional gugur dalam pertempuran di berbagai titik.
- Peran AS: Gedung Putih dan Juru Bicara Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa intelijen Amerika Serikat memberikan dukungan penuh dalam operasi ini.
Tewasnya El Mencho menjadi “kemenangan diplomatik” bagi Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum.
Sejak menjabat, ia berada di bawah tekanan hebat dari Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam akan memberlakukan tarif dagang atau tindakan militer sepihak jika Meksiko tidak serius memberantas penyelundupan fentanyl.
Duta Besar AS, Ron Johnson, memuji keberhasilan militer Meksiko dan menyebut kerja sama kedua negara telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, para analis memperingatkan adanya “efek samping” dari strategi pemenggalan struktur pimpinan (kingpin strategy) ini.
“Ini bisa menjadi momen di mana kelompok kriminal rival melihat celah kelemahan dan mencoba merebut kendali wilayah Jalisco,” ujar David Mora, analis dari International Crisis Group.
Rekam Jejak “El Mencho”
Didirikan sekitar tahun 2009, CJNG tumbuh menjadi monster kriminal yang sangat agresif. Di bawah kepemimpinan El Mencho, kartel ini dikenal karena:
- Inovasi Militer: Memelopori penggunaan drone peledak dan ranjau darat.
- Serangan Berani: Pernah mencoba membunuh kepala polisi Mexico City pada 2020 dengan granat dan senapan mesin di jantung ibu kota.
- Status Teroris: Pada Februari 2025, pemerintahan Trump secara resmi menetapkan CJNG sebagai organisasi teroris asing.
Saat ini, Meksiko tengah menahan napas. Meski Presiden Sheinbaum menyerukan ketenangan dan sebagian besar blokade jalan telah dibersihkan, rasa was-was tetap menghantui.
Jatuhnya sang raja diraja narkoba mungkin menjadi akhir dari satu babak hitam, namun sejarah Meksiko mencatat bahwa kekosongan kekuasaan sering kali melahirkan badai yang lebih besar.
Bagi warga seperti Jacinta Murcia, doa adalah satu-satunya pelindung saat mereka melintasi jalanan yang kini sunyi namun penuh ancaman(NR)





