Gerbang Rafah Buka: Dilema Pulang ke Gaza

Ribuan Warga Gaza Antre Izin Berobat

Gaza – Penantian panjang di perbatasan Rafah menemui babak baru. Mulai Minggu(1/2/2026) besok, pintu perlintasan yang menghubungkan Gaza dan Mesir resmi dibuka kembali secara terbatas, memberikan harapan sekaligus ketidakpastian bagi ribuan warga yang terpisah dari tanah airnya.

Berdasarkan pantauan AFP dilapangan, Pembukaan ini merupakan bagian dari rencana perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat.

Fokus utamanya adalah jalur evakuasi medis bagi sekitar 20.000 warga Gaza yang membutuhkan pengobatan mendesak di luar negeri, serta akses pulang bagi mereka yang terjebak di pengungsian selama perang berlangsung.

Namun, di balik kabar baik ini, aturan ketat membayangi setiap langkah para pelintas. Berikut adalah poin-poin penting terkait operasional Gerbang Rafah yang baru:

  • Kuota Kepulangan Terbatas: Hanya warga yang meninggalkan Gaza selama perang yang diizinkan kembali, dengan kuota maksimal 150 orang per hari.
  • Proses Skrining Ketat: Setiap calon pelintas wajib mendaftar lebih awal untuk pemeriksaan keamanan oleh Shin Bet (dinas keamanan Israel).
  • Teknologi Pengenal Wajah: Israel memantau proses keluar secara jarak jauh menggunakan teknologi pemindai wajah untuk menyaring individu yang dianggap berbahaya.
  • Pengawasan Multinasional: Petugas dari Mesir, Otoritas Palestina, dan Uni Eropa akan bersiaga di lokasi untuk memantau kelancaran arus pengungsi.

Meski Israel dilaporkan tidak membatasi jumlah warga yang ingin meninggalkan Gaza, proses masuk kembali ke wilayah kantong tersebut diprediksi akan jauh lebih sulit kutip AFP.

Warga harus melewati pos pemeriksaan fisik militer Israel setelah lolos dari sisi Mesir.

Kondisi di sisi Gaza sendiri telah berada di bawah kendali militer Israel sejak Mei 2024. Hal ini menambah kekhawatiran akan terjadinya hambatan teknis dan gesekan di lapangan saat sistem ini pertama kali diuji coba.

Data dari pejabat Palestina yang dirilis AFP,  menunjukkan bahwa sekitar 100.000 orang telah melarikan diri dari Gaza sejak konflik pecah.

Bagi mereka, pembukaan Rafah bukan sekadar urusan logistik, melainkan pertanyaan besar tentang bagaimana melanjutkan hidup di tanah air yang kini hancur lebur.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *