Gaza – Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir resmi dibuka kembali untuk pergerakan manusia pada Senin (2/2/2026).
Meski hanya segelintir warga sakit dan terluka yang berhasil melintas di hari pertama, pembukaan ini menjadi titik balik penting setelah akses tersebut dikuasai pasukan Israel sejak Mei 2024.
Berdasarkan data operasional perdana yang dikutip oleh BBC News, proses evakuasi berjalan lambat. Dari target 50 pasien per hari yang ditetapkan dalam laporan awal, hanya lima pasien didampingi tujuh pendamping yang berhasil menyeberang ke Mesir.
Langkah ini merupakan bagian dari rencana gencatan senjata 20 poin yang diusung Presiden AS Donald Trump.
Pembukaan sempat tertunda berbulan-bulan karena Israel menetapkan syarat pengembalian jenazah sandera terakhir, Sersan Mayor Ran Gvili, yang baru berhasil dievakuasi pekan lalu diantaranya:
- Kuota Terbatas: Israel hanya mengizinkan 50 pasien dan pendamping keluar per hari, serta 50 warga Gaza di luar negeri untuk kembali.
- Kendala Keamanan: Sebanyak 38 warga Palestina tertahan di sisi Mesir karena tidak lolos pemeriksaan keamanan ketat yang dilakukan Israel secara jarak jauh.
- Krisis Medis: World Health Organization (WHO) mencatat ada 20.000 warga sakit dan terluka yang mengantre untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza.
- Mekanisme Pengawasan: Operasional dikelola oleh staf lokal Palestina di bawah pengawasan misi bantuan perbatasan Uni Eropa (EUBAM).

Kisah pilu datang dari Sabrine al-Da’ma, seorang ibu yang mencoba membawa putrinya, Rawa (16), yang menderita penyakit ginjal. Rawa terpaksa menjalani dialisis karena kekurangan gizi akut selama perang.
“Saya berencana mendonorkan satu ginjal saya untuknya. Kami berharap proses rujukan dipercepat karena kondisinya semakin lemah dan usia saya terus bertambah,” ujar Sabrine kepada BBC News
Di sisi lain, kekecewaan juga dirasakan oleh mahasiswa seperti Maha Ali (26). Ia berharap bisa melanjutkan studi S2 ke Aljazair, namun otoritas Israel sering kali tidak mengategorikan pelajar sebagai “kasus kemanusiaan”.
Ketua Komite Teknis Palestina, Ali Shaath, menyatakan bahwa pembukaan ini adalah awal dari proses panjang untuk menyambungkan kembali akses yang terputus. “Ini adalah jendela harapan nyata bagi rakyat kami di Jalur Gaza,” ungkapnya.
Mesir sendiri telah menyiagakan sekitar 150 rumah sakit dan 300 unit ambulans untuk menyambut para pasien yang dievakuasi.
Meski demikian, bantuan barang tetap dilarang melewati Rafah dan harus tetap melalui pintu Kerem Shalom di bawah kendali penuh Israel.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut pembukaan ini sebagai langkah konkret dalam rencana perdamaian.
Namun, Sekretaris Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menegaskan bahwa pembatasan pasokan penting masih harus dilonggarkan lebih lanjut.(NR)





