Teheran – Sebuah helikopter militer milik Angkatan Darat Iran jatuh dan menghantam kawasan pasar buah di Kota Dorcheh, Provinsi Isfahan, pada Selasa (24/2/2026) pagi waktu setempat.
Insiden maut ini menambah daftar panjang kecelakaan alutsista udara Iran dalam sepekan terakhir.
Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa dua awak pesawat, yakni pilot Kolonel Hamed Sarvazad dan kopilot Mayor Mojtaba Kiani, gugur dalam tugas.
Selain kru pesawat, dua pedagang yang sedang beraktivitas di lapak pasar turut menjadi korban jiwa setelah badan helikopter terbakar hebat saat menghantam daratan.
Dugaan Kendala Teknis
Pusat Pelatihan Penerbangan Angkatan Darat dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa investigasi awal mengarah pada gangguan teknis.
“Penyebab pasti kecelakaan sedang dalam proses penyelidikan mendalam oleh tim ahli,” tulis pernyataan resmi lembaga tersebut.yang dikutip oleh AFP
Langkah hukum juga diambil oleh Kepala Yudisial setempat, Asadollah Jafari, yang telah menerjunkan tim penyidik ke lokasi guna memastikan kronologi dan detail insiden di lapangan.
Tragedi ini terjadi hanya berselang kurang dari satu minggu setelah jatuhnya jet tempur F-4 di Provinsi Hamadan saat misi latihan malam hari.
Dalam peristiwa sebelumnya, satu pilot dilaporkan tewas sementara satu lainnya berhasil menyelamatkan diri.
Para pengamat menilai tingginya angka kecelakaan udara di Iran berkaitan erat dengan usia armada yang menua.
Akibat sanksi ekonomi berkepanjangan dari Amerika Serikat dan sekutunya, Teheran kesulitan mendapatkan suku cadang orisinal maupun melakukan peremajaan armada militer maupun sipil.
Meski Iran telah memesan jet tempur canggih Su-35 dari Rusia, hingga kini pengiriman unit tersebut belum terealisasi sepenuhnya oleh Moskow.
Konteks Ketegangan Geopolitik
Insiden ini terjadi di tengah atmosfer politik yang memanas menjelang dialog nuklir di Jenewa, Swiss, Kamis (26/2/2026) mendatang.
Di saat yang sama, Washington terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan menyiagakan ratusan jet tempur dan gugus tugas kapal induk.
Menanggapi tekanan tersebut, pejabat tinggi Teheran menegaskan posisi mereka untuk tidak tunduk pada intimidasi militer, meski tetap membuka pintu negosiasi terkait jaminan program nuklir damai.(YA)





