Qingdao, China – Dunia belum sepenuhnya pulih dari ketegangan 12 hari antara Iran dan Israel, ketika satu langkah geopolitik mengejutkan muncul.
Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh memilih China sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya pasca konflik.
Tak hanya kunjungan biasa, ia hadir dalam pertemuan elite militer negara-negara anggota Shanghai Cooperation Organisation (SCO) yang digelar di Qingdao, China, markas angkatan laut strategis Negeri Tirai Bambu.
Langkah ini tak hanya simbolik, tetapi juga strategis. Iran menunjukkan kepada dunia bahwa jika pintu diplomasi Barat tertutup, maka mereka akan mengetuk yang lain dan kali ini, itu adalah Beijing dan Moskow.

Apakah Ini Poros Baru Timur ?
Konflik Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, telah menyita perhatian global. Namun, kedatangan Nasirzadeh ke Tiongkok dalam momen penuh ketegangan ini menandai bahwa Iran ingin memperkuat aliansi di luar poros Barat.
Beberapa peluang pun tercatat pada pertemuan keduanya, yaitu :
- SCO kini menjadi poros tandingan NATO yang semakin kuat, dengan anggota seperti China, Rusia, India, dan Pakistan.
- Iran tak hanya hadir secara fisik, tapi juga secara simbolik mengukuhkan poros politik dan ekonominya ke Timur.
- Pernyataan keras dari Menteri Pertahanan China, Dong Jun yang mengecam “tindakan hegemonik dan intimidatif”—tanpa menyebut Amerika Serikat secara langsung—menambah sinyal dukungan.
“Kami berharap China terus menjunjung keadilan dan memainkan peran lebih besar dalam menjaga gencatan senjata dan menurunkan ketegangan regional,” ucap Nasirzadeh seperti dikutip media resmi Tiongkok.
Konflik, Minyak, dan Aliansi Ekonomi
Di tengah gencatan senjata yang rapuh, aspek ekonomi tak kalah penting. Berdasarkan data dari Reuters, China mengimpor 1,8 juta barel per hari (bpd) minyak mentah Iran selama periode 1–20 Juni 2025 angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan ini terjadi di tengah diskon besar-besaran dan harga global yang menurun. Para penyuling minyak independen di China tak ingin melewatkan kesempatan emas ini.

Presiden Donald Trump, yang sebelumnya memperketat sanksi atas Iran, memberi pernyataan ambigu via media sosial:
“China kini bisa terus membeli minyak dari Iran. Semoga mereka juga membeli dari AS,” tulisnya.
Namun, Gedung Putih kemudian mengklarifikasi bahwa tidak ada pencabutan sanksi secara resmi.
Sikap Beijing: Retoris tapi Strategis
China memang belum ikut campur langsung dalam konflik Iran-Israel, tetapi komentar-komentar retoris dari Dong Jun memperkuat persepsi bahwa Beijing mendukung Iran secara diplomatik dan moral.
“Unilateralisme dan proteksionisme sedang meningkat, sementara tindakan hegemonik dan intimidatif secara serius merusak tatanan internasional,” kata Menteri Pertahanan China, Dong Jun dalam pidato pembukaan SCO.
Pernyataan tersebut konsisten dengan narasi China selama ini dalam menentang dominasi Barat dalam sistem global, dan semakin memperkuat posisi SCO sebagai forum tandingan NATO yang mengakomodasi negara-negara seperti Iran.

Iran sedang memainkan permainan panjang. Di tengah embargo dan sanksi yang belum juga reda, Iran mengandalkan China sebagai penyelamat ekonomi dan pelindung diplomatik.
Pasokan minyak yang terus mengalir ke Beijing menjadi penyokong utama ekonomi Iran, sekaligus sumber pendanaan operasi regionalnya.
Aliansi ini memperlihatkan bahwa dunia multipolar bukan lagi teori, tapi kenyataan yang sedang terbentuk.
SCO, yang dulunya dianggap hanya forum regional Asia Tengah, kini berubah menjadi panggung kekuatan global baru. Seperti yang dikutip oleh Newsweek
Kehadiran Iran dalam SCO pasca serangan AS dan konflik berdarah dengan Israel bukanlah peristiwa biasa. Ini adalah sinyal kuat pergeseran kekuatan global.
Di saat NATO dan AS fokus pada Eropa dan Ukraina, Timur Tengah mulai mencari pelindung baru. SCO, dengan China dan Rusia sebagai porosnya, sedang mengisi kekosongan itu.
Dan Iran, dengan segala bebannya, ingin memastikan bahwa ia tidak berjalan sendiri di tengah gelombang tekanan Barat. (YA)





