Jakarta – Halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta yang biasanya kaku dengan protokoler ketat, mendadak berubah menjadi ruang pertemuan penuh emosi.
Di momen Idul Fitri 1447 Hijriah, Presiden Prabowo Subianto secara khusus membuka pintu gerbang Istana bagi ribuan masyarakat umum.
Tanpa batasan ketat bagi rakyat kecil, mulai dari tukang urut hingga penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan langka untuk bersalaman langsung dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut.
Langkah ini diambil Presiden untuk mengedepankan empati, mengingat masih banyak saudara di daerah lain yang sedang mengalami kesulitan.
“Beliau menyampaikan bahwa tidak wajib dihadiri oleh para pejabat, memang khusus untuk masyarakat umum,” tegas Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, saat menjelaskan konsep “Rakyat Prioritas Utama” tahun ini.
Mimpi Terwujud di Halaman Istana
Bagi banyak warga, menginjakkan kaki di rumput Istana adalah kemustahilan yang menjadi kenyataan.
Suasana hangat begitu terasa saat Presiden Prabowo, didampingi putranya Didit Hediprasetyo, berkeliling menyalami warga satu per satu di tengah cuaca Jakarta yang bersahabat.
Sinta, seorang Tukang Urut Keliling tak mampu membendung air mata haru saat mimpinya bertemu Presiden terwujud.
“Alhamdulillah, saya diwujudkan, mungkin Allah sayang sama saya. Bahkan saya dikasih hadiah,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Sementara Samuel (penyandang disabilitas) yang didampingi kakaknya, menembus keramaian menggunakan transportasi publik busway demi satu tujuan: berjabat tangan dengan pemimpin yang ia kagumi.
Begitu juga dengan Aji (Driver Ojek Online), yang menyampaikan beribu terima kasih karena pemerintah memberikan ruang bagi rakyat kecil untuk merasakan suasana Lebaran di lingkungan kepresidenan.
Pejabat Dihimbau Sederhana, Rakyat Diutamakan
Ada yang berbeda dalam instruksi kepresidenan kali ini. Mensesneg Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Presiden secara eksplisit meminta para pejabat kementerian dan lembaga untuk mengurangi kegiatan open house besar-besaran dan memprioritaskan empati sosial.
“Bapak Presiden memilih untuk memprioritaskan kepada masyarakat umum… karena beliau tidak ingin merepotkan (pejabat) barangkali ada agenda keluarga, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap saudara kita yang masih mengalami kesulitan,” jelas Mensesneg.
Meskipun memprioritaskan warga, tradisi silaturahmi antar-pemimpin tetap terjaga. Presiden Prabowo juga menerima kunjungan dari para pendahulunya, termasuk Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), menciptakan harmoni transisi kepemimpinan yang menyejukkan. (NR)





