Jakarta & Kota-Kota Besar Lainnya Mulai ‘Ditinggalkan’! 6 Juta Orang Curi Start Mudik

Kereta Api Jadi Idola Baru & Rebutan Hingga Naik 15%, Angkutan Darat (Bus) Naik tipis 6,41%

Jakarta – Gelombang pemudik Lebaran 2026 mulai membanjiri berbagai simpul transportasi tanah air lebih awal dari perkiraan.

Hingga Selasa (17/03/26), Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu mencatat sebanyak 6.251.806 orang telah bergerak meninggalkan ibu kota dan kota besar lainnya menggunakan angkutan umum.

Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 10,98% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Fenomena “curi start” ini dipicu irisan waktu antara libur Lebaran dengan Cuti Bersama Nyepi yang jatuh pada 18 Maret 2026.

Masyarakat tampaknya lebih memilih memanfaatkan kebijakan work from anywhere (WFA) dan cuti bersama, untuk menghindari puncak kepadatan yang diprediksi akan jauh lebih ekstrem.

Kereta Api Melaju Kencang

Tahun ini, moda perkeretaapian mencatatkan diri sebagai primadona utama pemudik. Dengan ketepatan waktu (on time performance) mencapai 95,90%, kereta api menjadi pilihan paling rasional bagi masyarakat yang mengejar efisiensi.

  • Perkeretaapian: Naik kasta tertinggi sebesar 15,67% (1,86 juta penumpang).
  • Angkutan Penyeberangan: Meningkat 11,27% (1,51 juta penumpang).
  • Angkutan Laut: Tumbuh 10,50% (527 ribu penumpang).
  • Angkutan Udara: Naik 8,14% (1,42 juta penumpang).
  • Angkutan Darat (Bus): Naik tipis 6,41% (924 ribu penumpang).

Tantangan Nyepi & “Gangguan” di Langit

Berbeda dengan jalur mudik di Pulau Jawa, perhatian khusus kini tertuju pada wilayah Bali.

Penutupan Pelabuhan Gilimanuk dan Bandara I Gusti Ngurah Rai selama perayaan Nyepi membuat penumpukan penumpang sempat terjadi sebelum H-4.

Kementerian Perhubungan terus melakukan supervisi ketat di dua titik ini, agar tidak terjadi stagnasi total. Tak hanya soal volume kendaraan, alam pun memberikan tantangan tersendiri.

Sebaran abu vulkanik dari Gunung Ibu di Halmahera dan Gunung Semeru di Jawa Timur, sempat membayangi operasional penerbangan.

Meski rute udara internasional mencatatkan ketepatan waktu terendah (70,45%) akibat faktor cuaca dan geologi ini, secara umum nadi transportasi nasional masih berdenyut normal.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Ernita Titis Dewi menekankan bahwa tren mudik lebih awal ini sangat membantu pemerintah dalam mengurai kepadatan.

Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tetap waspada dan tidak lengah terhadap perubahan informasi dari operator lapangan.

Pada akhirnya, mudik Lebaran 2026 adalah tentang kecerdikan masyarakat dalam membaca celah waktu.

Dengan 6 juta orang yang sudah berada di perjalanan, kita melihat sebuah pergeseran budaya: mudik tak lagi harus menunggu malam takbiran.

Bagi yang masih bersiap, pastikan untuk terus memantau info cuaca dan geologi, karena tahun ini, perjalanan pulang kita sedikit banyak ditentukan “restu” alam dan ketepatan memilih moda transportasi.

Selamat berkumpul dengan keluarga! (*)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *