Istanbul, Turki – Bayangkan Kamu sedang asyik bertukar pesan mesra di Tinder. Percakapan mengalir intim, foto pribadi dikirim sebagai tanda percaya, hingga tiba-tiba sebuah pesan dingin masuk: “Kami tahu siapa keluargamu.”
Hal ini di alami oleh seorang pria di Türki, Sebuah grup WhatsApp muncul di layar ponselnya. Isinya? Ayah, ibu, saudara kandung, hingga kerabat jauh yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi.
Di sana, foto-foto pribadinya siap disebarkan jika ia tidak segera mengirimkan sejumlah uang. Fenomena horor digital ini bukan sekadar gertakan.
Ini adalah potret nyata dari gelombang kejahatan siber “Sextortion” yang sedang menghantui pengguna aplikasi kencan, di mana privasi diubah menjadi senjata dan reputasi dijadikan tebusan seperti di kutip oleh Media Asal Turki, Turkey To Day.
Dari “Swipe Right” ke Pemerasan Berantai
Laporan yang dihimpun dari para korban di Türkiye menunjukkan pola yang sangat sistematis. Para pelaku tidak bekerja sendirian. Mereka adalah bagian dari sindikat yang memanfaatkan celah keamanan data pribadi.
Berikut adalah tahapan bagaimana jebakan ini bekerja:
- Pendekatan Mesra: Komunikasi dimulai di Tinder atau aplikasi kencan lainnya. Pelaku biasanya membangun kepercayaan dengan sangat cepat.
- Pindah ke Jalur Pribadi: Setelah merasa akrab, percakapan berpindah ke WhatsApp untuk meningkatkan intensitas keintiman.
- Pertukaran Konten Sensitif: Di sinilah jebakan dikunci. Setelah korban mengirimkan foto atau video intim, sikap pelaku berubah 180 derajat.
- Akses Data Ilegal (Panel): Pelaku menunjukkan bukti bahwa mereka memiliki data kependudukan korban, termasuk alamat rumah dan nomor telepon seluruh anggota keluarga.
- Teror Grup WhatsApp: Untuk menekan mental korban, pelaku membuat grup WhatsApp yang berisi anggota keluarga korban dan mengancam akan menyebarkan konten sensitif tersebut di sana.
Mengapa pelaku bisa tahu nomor telepon paman atau bibi Anda? Investigasi dari media lokal seperti Anadolu Agency dan T24 mengungkapkan keberadaan sistem database ilegal yang disebut “Panel”.
Sistem ini memberikan akses tidak sah ke catatan identitas nasional. Para penjahat siber menggunakan kredensial curian untuk masuk ke database populasi resmi.
Dengan sekali klik, mereka bisa memetakan seluruh jaringan keluarga korban. Inilah yang membuat ancaman mereka terasa sangat nyata dan mengerikan bagi para korban.
Seorang korban melaporkan telah mengirimkan uang sebesar $115 (sekitar ₺5.000), lalu diperas lagi sebesar $450, hingga akhirnya ditagih $1.150. Ia baru berhenti setelah menyadari bahwa tuntutan pelaku tidak akan pernah usai.
Pelajaran Pahit yang Terlambat bagi Pria
Selama dekade terakhir, kampanye kesadaran digital seperti film “Megan’s Story” lebih banyak menyasar perempuan muda.

Perempuan dididik untuk waspada, sementara laki-laki sering kali tidak dipersiapkan untuk menghadapi konsekuensi serupa dalam dunia digital.
Kini, celah edukasi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan. Ketidaksiapan mental menghadapi stigma sosial membuat banyak pria terjebak dalam rasa malu yang mendalam, sehingga mereka lebih memilih membayar tebusan daripada melapor.
Pemerintah Türkiye tidak tinggal diam. Pada November 2025, Kementerian Dalam Negeri Türkiye melaporkan operasi besar-besaran selama 10 hari yang berhasil mengamankan:
- 429 tersangka yang terlibat dalam penipuan online dan eksploitasi digital.
- Aset senilai $24 juta (sekitar Rp370 miliar) termasuk perusahaan, kendaraan, dan ratusan rekening bank.
- Identifikasi jaringan “Panel” yang menjual data pribadi untuk kepentingan pemerasan.
Meskipun operasi skala besar terus dilakukan, anonimitas nomor luar negeri dan teknologi enkripsi membuat pelaku sering kali sulit dilacak secara tuntas.
Langkah Penyelamatan Jika Kamu Terjebak
Pakar hukum dan keamanan siber menyarankan beberapa langkah krusial jika Kamu menjadi target pemerasan:
- Jangan Membayar: Pembayaran hanya akan mengundang pemerasan yang lebih besar.
- Putus Komunikasi: Segera blokir semua kontak pelaku dan jangan bernegosiasi.
- Kumpulkan Bukti: Tangkap layar (screenshot) semua pesan, nomor telepon, dan grup yang dibuat.
- Bicara pada Keluarga: Meskipun memalukan, memberi tahu keluarga lebih dulu akan mematahkan kekuatan tawar pelaku.
- Lapor Otoritas: Hubungi pihak kepolisian siber setempat untuk bantuan hukum.
Tragedi sextortion di Türkiye bisa saja terjadi pada lingkungan kita, Ini adalah pengingat keras bahwa di balik layar ponsel yang berpendar, terdapat predator yang siap memangsa rasa malu kita.
Teknologi mungkin semakin modern, namun prinsip kejahatan ini tetap kuno: memanfaatkan ketakutan manusia akan isolasi sosial.
Jangan biarkan privasi Kamu menjadi komoditas. Di era di mana data pribadi bisa dipersenjatai, kewaspadaan adalah satu-satunya perisai yang tersisa.
Karena pada akhirnya, reputasi Kamu jauh lebih berharga daripada tuntutan angka-angka di layar WhatsApp.(YA)





