Jakarta – Di balik layar yang kita nikmati, ternyata perempuan masih ketinggalan dalam dunia digital. Berdasarkan data global menunjukkan perempuan juga belum setara dengan kaum Adam di dunia maya.
Ketua Akademi Perempuan NasDem (APN), Amelia Anggraini, menyuarakan keprihatinan soal ketimpangan akses internet yang dialami perempuan Indonesia. Dalam paparannya saat membuka kelas keenam Feminisme Pancasila bertema pendidikan politik perempuan, Amelia menekankan bahwa kedaulatan digital bagi perempuan adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar isu pelengkap kesetaraan gender.
“Saat ini, hanya 48 persen perempuan Indonesia yang aktif menggunakan internet. Angka ini terlalu rendah untuk negara sebesar kita,” kata Amelia dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi NewslinkIndonesia pada Minggu, 13 Juli 2025.
Amelia menegaskan bahwa rendahnya partisipasi perempuan dalam dunia digital berpotensi memperbesar ketimpangan ekonomi, pendidikan, hingga representasi sosial. Akses yang timpang ini, menurutnya, bisa menghambat daya saing perempuan Indonesia di masa depan.

Amankah Perempuan Di Dunia Maya ?
Pendiri media perempuan Magdalene, Dewi Asmarani,, menyatakan bahwa banyak perempuan enggan aktif di dunia maya karena takut jadi korban kekerasan berbasis gender online (KBGO).
“Perempuan perlu berdaulat secara digital, mulai dari mengamankan data pribadi, hingga melindungi diri dari doxing, konten non-konsensual, dan ujaran seksis,” ujar Dewi.
Data dari Cherie Blair Foundation for Women yang dirilis Maret 2025 menyebutkan bahwa 57 persen perempuan wirausahawan di negara berkembang pernah mengalami kekerasan digital. Akibatnya, lebih dari 40 persen dari mereka membatasi aktivitas online mereka, termasuk promosi bisnis.
Dunia Bicara Hal Yang Sama
Masalah ketimpangan digital perempuan ini bukan monopoli Indonesia saja . Laporan Digital 2025 oleh DataReportal mencatat bahwa secara global, akses internet perempuan masih tertinggal 4,3 persen dibanding laki-laki.

Mari lihat data luar negeri, biar perspektifnya kita para kaum Hawa makin kaya:
- Akses internet global: 66,5 % perempuan vs 70,8 % pria — selisih 4,3 poin atau ~200 juta orang DataReportal – Global Digital Insights+1ITU+1
- Mobile internet gap di negara berkembang: perempuan 15 % lebih jarang online dibanding pria; di beberapa kawasan mencapai 30 % arXiv+7The Guardian+7Wikipedia+7
- Online harassment: 57 % perempuan wirausahawan pernah alami kekerasan digital; 41 % bahkan membatasi tampil online karena ketakutan
- Data ADL & UN: di AS, 22 % alami harassment parah di media sosial (naik dari 18 % pada 2023), sementara global, 67 % perempuan dan anak perempuan pernah menghadapi kekerasan digital Women Entrepreneurs Grow Global+1Financial Times+1
Kata Para Pakar ?
Kreatif di Medsos, Tapi Tetap Aman : Mantan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Usman Kansong, mendorong perempuan untuk tetap produktif di media sosial namun dengan strategi yang aman dan cerdas.
“Media sosial bukan cuma tempat hiburan, tapi juga alat perjuangan politik, ekonomi, dan pemberdayaan. Jadilah konten kreator yang paham isu perempuan dan punya pengaruh,” kata Usman di Acara webinar pendidikan politik untuk para kader perempuan.
Usman bahkan membagi empat peran perempuan di medsos: sebagai influencer, aktivis isu strategis, penampil bakat, dan pebisnis digital. Ia menyarankan peserta untuk belajar dari tokoh-tokoh perempuan sukses di media sosial agar bisa meniru strategi mereka.
Fakta, Etika, dan Hak Cipta: Hal yang Nggak Kalah Penting : Kepala Perpustakaan Panglima Itam NasDem Tower, Shanti Ruwyastuti, menegaskan pentingnya menjaga integritas dan akurasi informasi saat berselancar dan berkonten di media sosial.
“Cek dulu semua informasi sebelum sebar. Gunakan tools seperti Mafindo untuk verifikasi hoaks. Hati-hati juga pakai musik di konten karena bisa kena masalah hak cipta,” jelas Shanti.
Anak dan Medsos: Ibu Harus Melek Digital : Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI, Eva Stephany Rabata, memberikan peringatan keras terhadap penggunaan media sosial yang berlebihan oleh anak-anak. Ia menyebut fenomena “brain rot” atau pembusukan logika akibat konten-konten dangkal di internet sebagai ancaman serius.
“Orang tua, terutama ibu, harus aktif membatasi screen time anak dan mendampingi mereka dalam konsumsi media. Jangan sampai anak kita kehilangan kemampuan berpikir kritis karena kebanyakan nonton konten receh,” katanya.

Kesimpulannya kesetaraan digital bukan sekadar culas, tapi persoalan global yang mendesak. Perempuan tak hanya harus terlibat dalam dunia digital, tetapi juga berdaulat di dalamnya. Dari sekadar pengguna menjadi penggerak. Dari korban menjadi kreator. Dunia digital adalah medan baru perjuangan kesetaraan.
NasDem, lewat Akademi Perempuannya, mencoba menyalakan obor itu. Tapi, perubahan sejati hanya akan terjadi kalau perempuan muda, Gen Z, dan milenial ikut ambil bagian bukan cuma jadi penonton.(YA)





