Barcelona, Spanyol – Di bawah langit Spotify Camp Nou yang bergemuruh, FC Barcelona tampil kesetanan dan melumat Atletico Madrid dengan skor telak 3-0 pada leg kedua semifinal Copa del Rey.
Namun, kemenangan magis ini menyisakan perih: raksasa Catalan tetap tersingkir karena kalah tipis dalam agregat gol 3-4.
Laga yang berlangsung sengit ini menjadi panggung bagi Marc Bernal, remaja yang mencetak brace, serta eksekusi penalti dingin dari Raphinha.
Meski Hansi Flick sampai harus berjudi dengan memasang bek tengah Ronald Araujo sebagai striker darurat di menit-menit akhir, satu gol tambahan untuk memaksakan extra time tak kunjung lahir hingga peluit akhir berbunyi.
Antara Jurang & Keajaiban
Barca memulai laga dengan misi “Mustahil”. Sejak menit pertama, mereka tidak membiarkan Atlético bernapas. Meski sempat terpukul karena Jules Kounde harus keluar lapangan di menit ke-10, mental Barca tidak goyah.
- Lewat gocekan Lamine Yamal yang menyisir garis gawang, Marc Bernal berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-29 dan membakar semangat 45 ribu penonton.
- Keajaiban seolah akan benar-benar terjadi ketika Raphinha menggandakan keunggulan lewat titik putih sebelum jeda.
Stadion Spotify Camp Nou berubah menjadi “neraka” bagi Atletico. Skuad Hansi Flick tidak hanya bermain bola; mereka bermain dengan jantung yang diletakkan di atas lapangan.
Skuad Barca memberikan performa “100%” yang membuat tim asuhan Diego Simeone hanya bisa bertahan total.

Baca juga : Maut Dalam Paruh Pertama! Atletico Madrid Beri Pelajaran Keras Kepada Barcelona!
Bek Jadi Striker
Memasuki babak kedua, ketegangan memuncak. Alejandro Balde menjadi tumbal kedua yang harus ditarik keluar karena cedera.
Dalam kondisi terjepit dan kehabisan opsi pemain depan, Hansi Flick melakukan langkah out of the box, yaitu memasukkan Ronald Araujo bukan untuk menjaga pertahanan, melainkan menjadi “target man” di lini depan.
Strategi ini hampir membuahkan hasil manis. Keberadaan Araujo mengacaukan konsentrasi bek Atletico, yang membuka ruang bagi Marc Bernal untuk mencetak gol keduanya.
Skor 3-0. Satu gol lagi, dan sejarah baru akan tercipta. Sayangnya, meski sudah memberikan segalanya hingga tetes keringat terakhir, tembok tebal Atletico tetap berdiri kokoh hingga laga usai.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, namun matanya memancarkan rasa bangga.
“Semua orang bermain dengan hati. Kami punya peluang untuk mencetak empat atau lima gol,” ujarnya usai laga dikutip dari Situs Resmi Barcelona.
Barcelona mungkin kehilangan trofi Copa del Rey tahun ini, tetapi malam itu mereka memenangkan kembali kepercayaan dunia bahwa identitas “Barca yang menakutkan” telah kembali.
Sepakbola terkadang punya cara yang sangat kejam, untuk memberikan rasa bangga sekaligus duka. (*)
Baca juga :





