Georgia – Di balik kemilau teknologi canggih di gudang Amazon Stone Mountain, Georgia, sebuah transformasi besar sedang terjadi.
Ribuan robot mungil mirip Roomba tampak sibuk berlalu-lalang, membawa rak barang seberat ratusan kilogram kepada para pekerja manusia yang berdiri statis di posisinya.
Berdsarkan Pantauan The Guardian Pemandangan ini adalah bagian dari tur publik yang digelar Amazon di 28 lokasi gudang mereka untuk membangun kepercayaan merek.
Namun, di balik koreografi mesin yang mulus, terselip narasi kontradiktif antara janji efisiensi perusahaan dengan realitas keras yang dihadapi para pekerja manusia di ambang era otomatisasi total.
Ironi di Balik Pintu Masuk
Pengalaman menarik terjadi saat kunjungan berlangsung. Meskipun tur ini bertujuan untuk memoles citra publik dan menjawab kritik soal kondisi kerja, akses dasar seperti kamar mandi tetap menjadi isu sensitif.
Seorang pengunjung melaporkan dilarang masuk ke toilet oleh petugas keamanan sebelum tur dimulai, meski ia datang lebih awal.
Hal ini seolah memvalidasi keluhan lama karyawan Amazon mengenai ketatnya manajemen waktu yang membuat mereka kesulitan untuk sekadar melakukan keperluan dasar manusia.
Pihak Amazon, melalui juru bicara Zoe Hoffman, membantah kaitan antara pengalaman pengunjung dengan prosedur karyawan. Ia menegaskan bahwa pekerja memiliki jadwal istirahat reguler yang telah ditetapkan.
Di dalam fasilitas seluas 640.000 kaki persegi ini, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan tulang punggung operasional. Beberapa teknologi yang menonjol meliputi:
- Robot “Roomba-like”: Mengangkut rak produk langsung ke tangan pekerja (pickers dan stowers).
- Lengan Robotik (Automated Crane): Melakukan paletisasi produk secara otomatis.
- Mesin Label Otomatis: Mencetak dan menempelkan label pengiriman pada ban berjalan (conveyor belt).
Meski terlihat futuristik, ketergantungan pada manusia masih terasa. Lengan robotik seringkali gagal menjangkau barang yang terlalu tinggi di dalam kotak, sehingga tetap membutuhkan bantuan tangan manusia untuk membenahinya.
Ambisi Otomasi & Ancaman PHK
Amazon kini berada di persimpangan jalan komunikasi. Jika sebelumnya Tye Brady, Chief Technologist Amazon Robotics, menyatakan bahwa robot tidak akan menggantikan manusia, pernyataan terbaru dari CEO Andy Jassy menunjukkan arah yang berbeda.
Jassy kepada Jurnalis the Guardian menjelaskan bahwa secara terbuka menyebut bahwa kemajuan AI akan mengurangi jumlah tenaga kerja korporat dalam beberapa tahun ke depan. Lebih mengejutkan lagi, laporan internal yang sempat beredar menyebutkan ambisi Amazon untuk:
- Mengotomatisasi 75% operasional perusahaan.
- Memangkas lebih dari 500.000 pekerjaan hingga tahun 2027.
- Menghindari perekrutan 160.000 pekerja baru.
Walaupun Amazon membantah laporan tersebut dan menyebutnya “gambar yang tidak lengkap”, gelombang PHK terhadap puluhan ribu karyawan korporat belakangan ini memperkuat kekhawatiran para staf.
“Belajarlah Memperbaiki Robot atau Tergantikan”
Para pekerja di lapangan mulai merasakan pergeseran ini secara langsung. Di Georgia Utara, seorang pekerja mengungkapkan bahwa layanan Sumber Daya Manusia (HR) kini mulai digantikan oleh sistem teks otomatis dan AI.
Pihak manajemen pun mulai mendorong “pelatihan silang” (cross-training). Pekerja bagian pengepakan kini diminta mempelajari keterampilan teknis seperti perbaikan robot.
Pesan tersiratnya jelas: pekerjaan fisik Anda akan segera diambil alih mesin, maka jadilah orang yang menjaga mesin tersebut agar tetap berjalan.
“Mereka memberi tahu kami bahwa cerdas bagi kami untuk belajar memperbaiki robot, karena pada akhirnya posisi kami mungkin akan digantikan,” ujar seorang pekerja anonim.
Otomasi di Amazon adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, ia menjanjikan lingkungan kerja yang lebih aman dengan mengurangi risiko cedera fisik akibat kelelahan.
Di sisi lain, ia mengancam mata pencaharian jutaan orang yang selama ini menggantungkan hidup pada industri logistik.
Amazon kini bukan sekadar toko daring terbesar di dunia, melainkan laboratorium raksasa yang sedang menguji seberapa jauh manusia bisa “disingkirkan” dari proses bisnis demi efisiensi absolut. Di Stone Mountain, masa depan itu tidak lagi mengetuk pintu ia sudah berada di dalam, sedang bergerak dengan roda robotik, tanpa perlu berhenti untuk menarik napas atau sekadar pergi ke kamar mandi.(YA)





