Korban Banjir Aceh: ‘Kami Capek Ngungsi, Pak, Beri Kami Rumah Kecil Saja!’

Tenda Pengungsian Resmi Lenyap! Warga Aceh Tamiang Minta Bantuan Rumah ke Presiden

Aceh Tamiang – Di sebuah unit sempit Hunian Sementara (Huntara) Kabupaten Aceh Tamiang, suara Ibu Nurita mendadak bergetar.

Tangannya gemetar saat menjabat tangan orang nomor satu di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto.

Bagi ibu tunggal dengan lima anak ini, Idul Fitri 1447 Hijriah bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan sebuah babak baru setelah duka banjir bandang menyapu seluruh hidupnya.

“Saat kejadian itu, kami pun enggak menduga. Airnya kencang kali, kami enggak bawa barang apa pun dari rumah,” kenang Nurita di hadapan Presiden.

Tiga bulan sudah ia menghuni hunian sederhana ini, setelah sebelumnya harus bertahan hidup di kolong jembatan dan tenda darurat yang pengap.

Titik Balik di Tengah Sisa Banjir

Kisah Ibu Nurita adalah potret nyata bagaimana pemulihan bencana bukan sekadar soal angka statistik, tapi soal nyawa dan harapan.

Di tengah suasana haru tersebut, ia memberanikan diri menitipkan satu permintaan tulus kepada sang Kepala Negara.

Ibu Nurita mewakili warga yang sebelumnya menyewa rumah berharap pemerintah memberikan solusi hunian tetap.

“Walaupun enggak besar, kecil. Kami hanya minta Huntap dengan Bapak Presiden,” ujarnya penuh harap.

Semua Sudah Keluar Dari Tenda

Usai mendengar curhatan warga, Presiden Prabowo menyempatkan diri menyapa awak media di area Masjid Darussalam.

Ia tampak puas melihat percepatan pemulihan yang dilakukan jajarannya. Sembari menyampaikan ucapan Idulfitri, ia menegaskan bahwa komitmen pemerintah adalah memastikan kehidupan kembali normal secepat mungkin.

“Alhamdulillah ya kita sampai ke hari Idul Fitri ini. Di tenda sudah enggak ada lagi, 100 persen. Listrik hampir semuanya sudah jalan, bantuan semua sudah turun ke rakyat semua, alhamdulillah,” tegas Presiden Prabowo Subianto di lokasi.

Presiden juga menyampaikan apresiasi khusus kepada sinergi instansi yang bekerja luar biasa.

“Saya sangat bangga dan terima kasih kepada semua petugas, semua aparat, dari TNI, Polri, BNPB, PU, pemerintah daerah, dan semua kementerian/lembaga yang bekerja luar biasa membantu rakyat,” tambahnya.

Listrik di wilayah terdampak Aceh Tamiang telah pulih hampir 100 persen, hanya menyisakan lima desa dengan akses tersulit yang masih dalam tahap finalisasi.

Ketika Presiden meninggalkan kawasan Huntara, Ibu Nurita masih berdiri di ambang pintu unitnya dengan mata berkaca-kaca.

Baginya, kunjungan ini bukan sekadar seremoni kepresidenan, melainkan suntikan semangat bahwa suaranya didengar.

Lebaran di Aceh Tamiang tahun ini memang tidak dirayakan di balik dinding tembok yang kokoh, namun kehadiran negara di tengah-tengah unit Huntara yang sederhana telah menyalakan api optimisme.

Kini, warga menanti wujud nyata dari harapan kecil yang mereka titipkan: sebuah rumah tetap untuk merajut kembali masa depan keluarga yang sempat hanyut diterjang air. (NR)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *