Langit Timur Tengah Terbakar, Penerbangan Dunia Lumpuh

19.000 Penerbangan Gagal Terbang Akibat Perang Amerika & Israel Dengan Iran

Dubai, UEA – Bayangkan sebuah pusat transit global yang biasanya tak pernah tidur, tiba-tiba sunyi senyap.

Itulah potret muram dunia penerbangan saat ini. Eskalasi serangan udara antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Sabtu (28/02/26) telah memaksa 21 maskapai internasional membatalkan jadwal mereka secara massal, menyusul penutupan wilayah udara di titik-titik paling strategis di dunia.

Krisis ini bukan sekadar penundaan biasa. Berdasarkan data lembaga analisis penerbangan Cirium, sedikitnya 966 penerbangan hampir seperempat dari total lalu lintas menuju Timur Tengah dibatalkan hanya dalam waktu 24 jam.

Jika menghitung jadwal keberangkatan, angka ini melonjak drastis melampaui 1.800 penerbangan yang gagal mengudara.

Penutupan Wilayah Udara massal

Ketegangan militer di darat langsung merambat ke angkasa.

Otoritas penerbangan di Iran, Irak, Israel, Suriah, Kuwait, Yordania, hingga Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah drastis dengan menutup koridor udara mereka demi menghindari tragedi salah sasaran.

Dampaknya terasa hingga ke seluruh pelosok bumi. Situs pemantau FlightAware mencatat lebih dari 19.000 penerbangan mengalami keterlambatan (delay) secara global.

Hingga Minggu (01/03/26)  dinihari, tren ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan tambahan 2.600 pembatalan baru yang masuk ke sistem.

  • Raksasa Teluk Terpukul: Emirates membatalkan 38% jadwalnya, sementara Etihad mencapai 30%. Qatar Airways mengambil langkah paling ekstrem dengan menangguhkan seluruh operasional dari hub mereka di Doha.
  • Eropa Mengambil Jarak: Lufthansa Group (termasuk Swiss) dan British Airways telah menyetop rute menuju Tel Aviv, Amman, dan Beirut hingga awal Maret.
  • Dampak ke Indonesia: Garuda Indonesia resmi menghentikan sementara rute menuju Doha. Langkah serupa diikuti oleh Air India dan Pakistan International Airlines (PIA).

Durasi Lama dan Bahan Bakar Boros

Bagi maskapai yang tetap memilih terbang, mereka harus menghadapi tantangan logistik yang sangat berat.

Menghindari zona konflik berarti harus memutar jauh, yang secara otomatis menambah durasi perjalanan dan meningkatkan konsumsi bahan bakar secara signifikan.

“Keamanan penumpang dan kru adalah prioritas absolut. Di tengah situasi yang sangat dinamis ini, kami tidak bisa mengambil risiko sekecil apa pun,” ungkap perwakilan maskapai yang dikutip melalui laporan AFP.

Para analis memperingatkan bahwa krisis ini memberikan tekanan finansial baru bagi industri penerbangan global yang sebenarnya baru saja mulai stabil.

Fluktuasi jadwal di negara-negara seperti Lebanon dan Oman diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring dengan ketidakpastian politik di kawasan tersebut.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *