Gaza — Harapan akan gencatan senjata antara Israel dan Hamas seolah tinggal sejengkal. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain: suara ledakan terus menggema, rumah-rumah runtuh, dan tubuh-tubuh tak bernyawa masih bergelimpangan. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 90 warga Palestina tewas akibat serangan udara dan artileri Israel — salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Jumlah korban sejak Rabu malam sudah mencapai lebih dari 90 jiwa, sebagian besar perempuan dan anak-anak,” kata pejabat medis di Gaza yang dikutip Al Jazeera, Kamis (3/7).
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel telah menerima proposal awal gencatan senjata. Proposal itu mencakup jeda 60 hari dalam pertempuran, penarikan sebagian pasukan Israel, dan pembebasan sandera oleh Hamas.
Ledakan Mematikan Menjelang Damai
Alih-alih menahan diri, Israel justru mempercepat intensitas serangannya. Target utama adalah wilayah utara Gaza, tempat militan Hamas masih bertahan. Di kota Gaza, serangan ke sekolah Mustafa Hafez di distrik al-Rimal menewaskan sedikitnya 12 orang yang tengah mengungsi.
Rekaman video dari jurnalis lokal menunjukkan anak-anak berjalan di antara reruntuhan hangus, mata mereka kosong, kaki mereka berdebu. Di Rumah Sakit al-Shifa, tangisan menyayat memenuhi udara saat keluarga mengenali jenazah kerabat mereka.
“Tidak ada lagi yang tersisa bagi kami. Anak-anak saya sudah pergi. Keponakan saya, enam anaknya, dan suaminya hangus terbakar,” ujar seorang perempuan yang kehilangan hampir seluruh keluarganya.
Di antara korban tewas juga terdapat dr. Marwan al-Sultan, direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Ia tewas bersama istri dan lima anaknya dalam serangan udara. Rumah Sakit Indonesia dibangun oleh relawan dan donasi dari masyarakat Indonesia dan telah menjadi simbol solidaritas kemanusiaan.
Upaya Damai: Harapan atau Fatamorgana?
Meski darah masih mengalir, upaya diplomatik tak surut. Kabinet keamanan Israel dijadwalkan bertemu Kamis malam untuk memutuskan langkah selanjutnya: menuju kesepakatan damai atau melanjutkan agresi militer.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar mengisyaratkan bahwa “ada sinyal positif” menuju gencatan senjata. Menteri Energi Eli Cohen bahkan menyatakan pada Ynet: “Ada kesiapan nyata untuk memajukan kesepakatan.”
Proposal terbaru menurut pejabat Mesir dan Israel yang mengikuti pembicaraan — mencakup:
- Hamas membebaskan 10 sandera (8 pada hari pertama, 2 pada hari terakhir),
- Israel menarik pasukan dari beberapa wilayah Gaza,
- Pembebasan ratusan tahanan Palestina,
- Peningkatan besar bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Namun, kesepakatan belum bulat. Faksi politik Hamas di luar Gaza, terutama yang berbasis di Qatar dan Istanbul, menyambut baik gencatan senjata. Tetapi sayap bersenjata di Gaza masih ingin melanjutkan perlawanan, menurut sumber internal gerakan tersebut.
Bencana Kemanusiaan Tanpa Henti
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, yang diakui PBB dan sejumlah pemerintah Barat, jumlah korban jiwa akibat operasi militer Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai 57.012 jiwa, sebagian besar adalah warga sipil. (Sumber: Ministry of Health Gaza, via UN OCHA)
Ratusan warga Palestina tewas saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan. Pada Kamis, lima orang tewas ditembak ketika hendak menuju pusat distribusi bantuan milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung Israel dan AS. GHF telah beroperasi sejak Mei dengan empat titik distribusi bantuan pangan yang dijaga militer Israel.
Israel mengakui telah terjadi “kerugian sipil” saat warga mencari bantuan dan mengatakan telah memberi instruksi baru kepada pasukan setelah “belajar dari kejadian sebelumnya.” (IDF press briefing, 1 Juli 2025)
Krisis Multidimensi: Politik, Kemanusiaan, dan Psikologis
Agresi Israel kali ini juga dipandang oleh sejumlah analis sebagai bentuk tekanan menjelang negosiasi. Keberhasilan Netanyahu dalam konfrontasi singkat melawan Iran bulan lalu memperkuat posisinya di dalam negeri dan membuatnya tak terlalu tergantung pada mitra koalisi ekstrem kanan yang menolak kesepakatan dengan Hamas.
Survei menunjukkan mayoritas publik Israel ingin perang segera diakhiri dan sandera dibebaskan.
“Ini momentum besar. Indikasi yang kami terima menunjukkan pihak-pihak sudah siap,” kata seorang diplomat regional yang dikutip The Guardian (2 Juli 2025).
Namun, jurang masih menganga. Israel ingin Hamas dilucuti senjatanya dan para pemimpinnya di Gaza diasingkan. Hamas, di sisi lain, meminta jaminan penghentian permanen agresi. (YA)





