Turkey – Umat Muslim di seluruh dunia kini memasuki fase krusial di penghujung Ramadan demi mengejar keberkahan Lailatul Qadar.
Malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan ini memicu berbagai tradisi unik di berbagai belahan dunia, mulai dari kemegahan Kesultanan Ottoman hingga syahdunya Keraton di Jawa.
Lailatul Qadar diyakini sebagai malam turunnya Al-Qur’an sekaligus waktu di mana malaikat Jibril turun ke bumi untuk membawa berkah.
Meski tanggal pastinya merupakan rahasia Ilahi, Rasulullah SAW memberi petunjuk bahwa malam mulia ini jatuh pada 10 malam terakhir Ramadan, khususnya di malam-malam ganjil.
Kemegahan “Kadir Alayi” di Hagia Sophia
Merilis tulisan Satrio Anugrah yang merupakan warga negara Indonesia Sekaligus peneliti sejarah dari Universitas Konya KTO Karatay Turki.
Menceritakan kepada Turkey To Day catatan sejarah Kesultanan Ottoman, Bahwa perayaan Lailatul Qadar dilakukan dengan sangat megah melalui tradisi “Kadir Alayi”. Ini adalah prosesi agung yang melibatkan Sultan dan para pejabat tinggi negara menuju masjid.
Puncak acara biasanya dipusatkan di Masjid Hagia Sophia, yang menjadi simbol kejayaan penaklukan Konstantinopel. Berikut adalah fakta menarik tradisi Lailatul Qadar di era Ottoman:
- Prosesi Sultan: Sultan melakukan salat Tarawih dan Tasbih berjamaah yang dipimpin oleh para ulama Hafiz.
- Dekorasi Kota: Jalanan dihias lampu gantung (lentera), serta gedung-gedung dicat ulang demi menyambut malam suci.
- Terbuka untuk Umum: Menariknya, diplomat asing dan warga non-Muslim diizinkan menyaksikan kemegahan ibadah ini dari lantai atas Hagia Sophia.
- Melodi Perpisahan: Muazin melantunkan qasidah dengan nada sedih “Elveda” (selamat tinggal) sebagai tanda Ramadan akan segera berakhir.
Filosofi Malem Selikuran di Tanah Jawa
Bergeser ke Indonesia, masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam menyambut Lailatul Qadar yang dikenal dengan sebutan “Malem Selikuran” (malam ke-21). Tradisi ini telah berakar sejak zaman Kesultanan Demak dan Wali Songo pada abad ke-15.
Di Surakarta, tradisi ini masih dilestarikan oleh pihak Keraton dengan menggelar kirab budaya. Rombongan membawa tumpeng dan lentera dari keraton menuju Masjid Agung atau Taman Sriwedari.
Lentera-lentera yang dibawa oleh peserta kirab bukan sekadar hiasan. Cahaya tersebut melambangkan doa dan harapan agar umat manusia mendapatkan petunjuk (nur) di malam yang gelap, sekaligus simbol kemakmuran bagi rakyat.
Pesan Persatuan Lintas Budaya
Meski praktik budayanya berbeda, esensi dari tradisi di Turki maupun Indonesia tetap sama, yakni meningkatkan pengabdian dan mempererat tali persaudaraan.
Perayaan ini menjadi pengingat bagi umat untuk tidak hanya berfokus pada satu malam, tetapi konsisten beribadah sepanjang bulan.
“Hikmah dirahasiakannya tanggal pasti Lailatul Qadar adalah agar umat Muslim tidak membatasi ibadah mereka hanya pada satu malam saja,” tulis Satrio Anugrah.(NR)





