Kabul, Afghanistan – Di balik kepulan debu yang membubung tinggi di pinggiran kota Kabul, ribuan pasang mata terpaku pada aksi heroik para penunggang kuda.
Ini bukan sekadar pacuan biasa, melainkan Buzkashi, kejuaraan nasional yang menjadi identitas sekaligus olahraga paling ekstrem di Afghanistan.
Tahun ini, Provinsi Sar-e-Pul keluar sebagai jawara setelah menumbangkan Badakhshan dengan skor telak 7-0.
Turnamen yang berlangsung selama 11 hari dan dimulai sejak Sabtu (27/12/25), tidak hanya memperebutkan trofi, tetapi juga gengsi besar antar-provinsi yang sudah mengakar selama berabad-abad seperti yang dikutip Al Jazeera.

Lebih Sekadar Balapan
Dalam Buzkashi, penunggang kuda elit yang disebut Chapandazan harus menunjukkan kekuatan fisik luar biasa. Mereka beradu di atas pelana untuk memperebutkan bungkusan kulit berisi jerami seberat puluhan kilogram.
Bungkusan ini harus dibawa lari menuju garis gawang di tengah kepungan lawan yang agresif. Aturan dalam olahraga ini sangat minim, sehingga kontak fisik yang keras menjadi pemandangan utama.
Para atlet harus memiliki keseimbangan sempurna, agar tidak jatuh saat membungkuk dari kuda yang sedang berlari kencang.

Fakta menarik Buzkashi tahun ini:
- Skor Juara: Sar-e-Pul mendominasi final dengan kemenangan mutlak.
- Bukan Bangkai: Tradisi kini bergeser menggunakan replika kulit berisi jerami demi keamanan.
- Hadiah Mewah: Pemenang membawa pulang mobil baru dari sponsor perusahaan minyak.
- Penonton Militan: Ribuan warga bahkan nekat memanjat tiang listrik demi melihat aksi idola mereka.
Antara Tradisi & Modernitas
Meskipun sempat dilarang pada era 90-an, kini Buzkashi kembali menjadi magnet bagi rakyat hingga pejabat tinggi negara.
Olahraga ini telah berkembang menjadi ajang profesional, dengan hadirnya peserta internasional dari Tajikistan dan Kirgistan.
Kejuaraan nasional ini membuktikan bahwa bagi rakyat Afghanistan, Buzkashi adalah cermin ketangguhan. Di sini, keberanian seorang pria diuji langsung di atas punggung kuda dalam arena penuh resiko.(YA)





