Paris, Prancis – Parc des Princes nyaris menjadi saksi runtuhnya sang juara bertahan. Dalam sebuah drama yang menguras emosi pada Kamis (25/02/26), Paris Saint-Germain (PSG) dipaksa bermain imbang 2-2 oleh AS Monaco.
Meski gagal menang di kandang, pasukan Luis Enrique resmi melaju ke babak 16 besar UEFA Champions League berkat keunggulan agregat tipis 5-4.
Pertarungan dua raksasa Prancis ini membuktikan bahwa statistik 92% kelolosan tim yang menang di leg pertama, hampir saja dipatahkan oleh militansi anak-anak asuh Sebastien Pocognoli.
Sang Raksasa Dibuat Menderita
Monaco datang ke Paris tidak untuk menyerah. Defisit satu gol dari leg pertama justru membuat tim “Merah-Putih” tampil kesetanan. Maghnes Akliouche menjadi momok menakutkan bagi lini belakang Paris.
- Terbukti, tepat sebelum jeda (menit 45), Maghnes Akliouche membungkam seisi stadion setelah mengonversi umpan matang Coulibaly.
- Skor 0-1 bertahan hingga turun minum, membuat agregat menjadi sama kuat 3-3. Di titik ini, PSG berada di ujung tanduk. Luis Enrique mengakui timnya bermain terlalu rumit dan penuh kesalahan di babak pertama.
Baca juga : Paris Saint-Germain Gagal Penalti, Tertinggal 0-2, Tapi AS Monaco Yang Justru Menangis!
Titik Balik Marquinhos & Kvaratskhelia
Memasuki babak kedua, Paris melakukan penyesuaian strategi. Momentum berubah total dalam rentang enam menit yang krusial.
- Menit 60: Sang kapten, Marquinhos, muncul sebagai penyelamat. Memanfaatkan situasi bola mati, ia menaklukkan kerumunan bek Monaco untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
- Menit 66: Khvicha Kvaratskhelia menunjukkan insting predatornya. Ia menyambar bola muntah hasil tepisan Philipp Kohn untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Petaka kian lengkap bagi Monaco setelah Mamadou Coulibaly diusir keluar lapangan akibat kartu kuning kedua, tak lama setelah gol penyama kedudukan.
Bermain dengan 10 orang melawan PSG di kandangnya sendiri, adalah tugas yang hampir mustahil.
Meskipun Monaco sempat menyamakan skor menjadi 2-2 lewat Jordan Teze di menit-menit akhir injury time, napas Paris sudah tidak tertahan lagi. Agregat 5-4 cukup untuk mengantar Les Parisiens ke fase gugur.
“Kami layak lolos, tapi kami dibuat menderita sepanjang waktu. Jika ada satu tim yang terbiasa melalui situasi sulit, itu adalah kami,” ujar Pelatih PSG, Luis Enrique kepada PSG TV.
Enrique juga menambahkan bahwa Paris kini siap menghadapi siapapun di babak berikutnya, entah itu Chelsea atau Barcelona, setelah melewati grup dan babak play-off yang sangat menguras tenaga melawan tim sekaliber Monaco.
Monaco pulang ke Monte Carlo dengan kepala tegak. Mereka mematahkan dominasi PSG dalam hal permainan di babak pertama dan hampir saja membalikkan sejarah kelolosan.
Namun, hilangnya satu pemain di menit ke-60, menjadi tembok besar yang menghentikan keajaiban mereka. (*)
Baca juga :





