Washington, AS — Kebijakan pengurangan pegawai di Badan Antariksa AS, NASA, resmi mencapai angka hampir 3.900 pegawai dalam satu langkah besar Presiden Donald Trump untuk memangkas birokrasi federal.
Langkah ini dilakukan meski pemerintah Amerika Serikat menekankan ambisi, untuk meluncurkan manusia kembali ke Bulan dan mendarat di Mars.
NASA telah mengonfirmasi bahwa sekitar 3.000 pegawai mengikuti program pengunduran diri ditangguhkan (deferred resignation) dalam putaran kedua, setelah 870 pegawai mengikuti putaran pertama disertai pengunduran diri pegawai reguler.
Dilansir dari AFP News, jumlah pegawai sipil NASA yang awalnya lebih dari 18.000, ketika Trump menjabat presiden justru turun menjadi sekitar 14.000 pegawai, atau lebih dari 20% pengurangan total.
Penyesuaian Strategis & Tantangan Global
NASA menegaskan bahwa jaminan keselamatan tetap menjadi prioritas utama, meskipun dilakukan penyesuaian organisasi untuk efisiensi operasional.
Dilansir dari CNN, badan ini memastikan tetap mendukung ambisi era Emas eksplorasi sejak program Artemis ke Bulan hingga target Mars.
Namun, skema ini sejalan dengan anggaran yang memangkas program sains dan iklim sebesar 25% dalam rencana anggaran NASA 2026.
Fokus dialihkan ke misi berawak ke Bulan dan Mars. Pemerintah AS ingin “kalahkan China kembali ke Bulan dan menempatkan manusia pertama di Mars”
Dampak akibat kebijakan itu, sebanyak 287 pegawai—termasuk mantan pegawai dan 4 astronaut—menandatangani “Voyager Declaration”, surat terbuka kepada Administrator Sementara NASA, Sean Duffy.
Menurut laporan The Guardian, mereka menyatakan bahwa pemangkasan anggaran dan staf membahayakan keamanan, keamanan nasional, dan misi-misi penting seperti Mars Sample Return dan Space Launch System.
Para penandatangan menekankan bahwa pengalaman, integritas keselamatan, dan kolaborasi internasional kini terancam, oleh keputusan yang dianggap arbitrer dan melampaui batas hukum penganggaran Kongres. (YA)





