No Kings! Aksi Nasional Lawan ‘Gaya Raja’ Trump Pecah di 2.000 Kota di Amerika

Berbarengan Dengan Parade Militer Megah dan Ulang Tahun ke-79 Donald Trump, Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Tolak Otoritarianisme

New York, ASDi tengah dinginnya udara musim panas New York, taman-taman kota mulai dipenuhi lautan massa berpakaian hitam, membawa poster bertuliskan “No Thrones. No Crowns. No Kings.”

Mereka bukan datang untuk merayakan, tapi untuk menolak. Menolak kekuasaan yang menurut mereka makin tak terkendali di tangan seorang Presiden Donald J. Trump.

Dilansir dari BBC News, gerakan nasional bertajuk ‘No Kings’ serentak digelar di lebih dari 2.000 titik di Amerika Serikat, dan beberapa kota internasional.

Aksi ini bertepatan dengan dua peristiwa penting, yaitu parade militer besar-besaran di Washington DC, dan ulang tahun ke-79 Donald Trump.

Protes ‘No Kings’

Merupakan aksi yang digerakkan oleh jaringan media sosial bernama 50501 (50 states, 50 protests, one movement), yang menolak kekuasaan tunggal dan simbolisme otoriter yang dianggap makin menonjol di era kepemimpinan Donald Trump.

Foto : Dok. AP News

Protes ini disebut sebagai “hari perlawanan nasional” yang menyerukan perlawanan terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam situs resminya, pihak penyelenggara menyebut: “Pemerintah telah menentang keputusan pengadilan, mendeportasi warga negara, menghilangkan orang di jalanan, dan menyerang hak-hak sipil kita.”

Menurut laporan AP News, aksi protes tersebar di seluruh wilayah Amerika, yaitu :

  • Lebih dari 2.000 kota dan kota kecil di 50 negara bagian AS ikut serta.
  • Kota besar seperti New York, Chicago, Philadelphia, Houston, dan Atlanta menjadi pusat kerumunan.
  • Aksi juga meluas ke Meksiko, Australia, Malawi, dan beberapa negara Eropa.
  • Washington DC justru tidak termasuk, karena  perhatian terpusat pada parade Trump yang menghadirkan ribuan tentara, ratusan kendaraan lapis baja dan pesawat tempur, dengan estimasi biaya $25 Juta hingga $45  Juta. Parade ini pun  dikritik luas karena dianggap memperkuat citra “raja” yang ingin dibangun Trump.

 Ketegangan dan Ancaman Militerisasi

  • Gubernur Texas, Greg Abbott mengerahkan lebih dari 5.000 pasukan Garda Nasional dan 2.000 polisi negara bagian, untuk menjaga keamanan saat aksi berlangsung.
  • Ron DeSantis dari Florida juga mengancam akan menindak tegas semua bentuk kerusuhan.
  • Alan Wilson, Jaksa Agung South Carolina merilis video di platform X: “Jika Anda menyerang petugas, merusak properti, atau mengancam warga, Anda akan ditangkap. Tanpa ampun.”
  • Kritik keras muncul dari pakar hukum, Prof. Gregory Magarian dari Washington University Militer dilatih untuk membunuh. Menurunkan mereka untuk mengatasi protes sipil adalah pendekatan yang sangat berbahaya,” ucapnya tegaz kepada Al Jazeera.

Saat ditanya soal protes ini, Donald Trump menjawab ringan, “Saya tidak merasa seperti raja. Saya harus melalui neraka untuk menyetujui sesuatu,” dikutip dari Al Jazeera.

Namun, jejak digital menunjukkan hal sebaliknya. Februari lalu, dalam unggahan Truth Social-nya, Trump menulis: “LONG LIVE THE KING!” usai membatalkan kebijakan tarif lalu lintas di Manhattan.

Bahkan Gedung Putih pernah menyebarkan foto editan Trump memakai mahkota di sampul Majalah Time, seolah ingin mengukuhkan simbolisme “raja”. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *